Haji Isam Langsung Komandoi Pembuatan Jalan di Merauke
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Owner PT Jhonlin Group H Syamsudin Andi Arsyad atau akrab disapa Haji Isam langsung bergerak secepatnya mewujudkan program presiden terpilih Prabowo Subianto dalam program mencetak sejuta hektare sawah di Merauke.
Setelah memborong 2.000 unit excavator dari China—yang telah tiba dalam beberapa hari lalu, kini progres dilanjutkan dengan membangun infrastruktur di wilayah tersebut.
Baca juga:Ribuan Excavator Haji Isam dari China Tiba di Merauke, Ternyata Akan Garap Proyek Ini
Pada Sabtu (10/8/2024). Jhonlin Group melalui anak perusahaannya PT Batulicin Beton Asphalt (BBA) mulai membangun jalan di Merauke, Papua Selatan. Haji Isam memimpin langsung ke lokasi untuk memberikan komando pada proses pembangunan jalan itu.
Pekerjaan jalan ini dimulai di titik Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke. Rencananya, jalan sepanjang ratusan kilometer ini akan menghubungkan empat distrik yaitu Distrik Ilyawab, Kaptel, Ngguti, dan Distrik Muting.
Sebelumnya, Haji Isam dan timnya telah melakukan survei untuk menentukan titik pembangunan jalan di empat distrik tersebut.
Untuk mendukung pembangunan tersebut, pada Jumat, 9 Agustus 2024, puluhan alat berat tampak telah dioperasikan untuk mendukung pekerjaan pembangunan jalan itu.
Diketahui, jalur jalan ini selain untuk menunjang proyek pencetakan sawah sejuta hektare, juga diharapkan dapat menjadi solusi untuk membuka akses bagi sebagian daerah di Merauke yang selama ini masih terisolasi.
Sebelumnya Haji Isam menyatakan komitmennya untuk menuntaskan program mencetak sejuta hektare sawah ini.
Baca juga:Begini Penampakan Kedatangan Ribuan Excavator yang Dipesan Haji Isam
“Dalam benak saya hanya terlintas, bagaimana gagasan Presiden terpilih Bapak Prabowo Subianto bisa tercapai. Bagaimanapun caranya, agar satu juta hektare bisa terealisasi, dan berhasil dalam tiga tahun, tanpa berpikir untung rugi,” kata Haji Isam, Kamis (1/8/2024) lalu.
"Ini adalah tugas negara yang diberikan kepada saya," tambah Haji Isam.
Pertemuan dengan PT Freeport
Pada pekan ini Owner PT Jhonlin Group, H Samsudin Andi Arsyad atau Isam, juga telah melakukan pertemuan dengan pihak PT Freeport Indonesia.
Kunjungan kerja konglomerat asal Kalimantan Selatan itu, terkait proyek pencetakan sawah 1 juta hektare (Ha) di Merauke, Papua.
Untuk diketahui, Haji Isam mendapat kepercayaan dari pemerintah menggarap proyek mencetak sawah 1 juta ha di Merauke.
Proyek cetak sawah 1 ha merupakan program Pemerintah untuk ketahanan pangan dan pertanian.
Untuk mewujudkan program pemerintah tersebut, Haji Isam telah mendatangkan 2.000 excavator dari China ke Papua.
Haji Isan bermaksud menggunakan tailing dari PT Freeport sebagai bahan pembuatan jalan poros proyek cetak sawah 1 juta hektare (ha) di Merauke, Papua.
Dalam kunjungan ini, Haji Isam didampingi Kepala Staf Umum (Kasum) TNI, Letjen Letjen Richard Tampubolon dan Asisten Operasional (Asops) Kodam XVI/Cenderawasih, Brigjen Aulia.
Rombongan Haji Isam diterima jajaran PT Freeport Indonesia antara lain
Claus Wamafma selakuk Director EVP Sustainable Development, Agung Laksamana (EVP External Affairs), Gesang Setiayadi (VP Environment), Lenny Josephine (VP Government Relations), Harry Johansyah (Manager Tailings Utilization).
Turut mendampingi Direktur BBA dan pejabat Dirjen Planologi.
Baca juga:Ribuan Excavator Haji Isam dari China Tiba di Merauke, Ternyata Akan Garap Proyek Ini
Lantas apa itu tailing? Seperti dikutip Wartabanjar.com dari website resmi PT Freeport Indonesia (PTFI), tailing merupakan salah satu volume limbah terbesar di operasi-operasi PT Freeport.
Tailing merupakan sisa air dan bebatuan alamiah di permukaan tanah yang sangat halus setelah konsentrat terpisah dari bijih di pabrik pengolahan.
Proses pengolahan/konsentrat Freeport Indonesia merupakan sebuah proses fisik di mana bijih digerus halus dan mineral yang mengandung tembaga dan emas dipisahkan dari partikel-partikel batuan yang tidak bernilai ekonomi.
Oleh karena topografi istimewa tapak, kegiatan seismiknya, dan curah hujan tahun yang melebihi 10 meter di beberapa lokasi.
PTPI menggunakan sistem pengelolaan tailing yang terkendali via aliran sungai yang mengangkut tailing ke suatu daerah yang ditetapkan di zona dataran rendah dan pesisiran, yang disebut sebagai Modified Ajkwa Deposition Area (Mod ADA).
Daerah pengendapan ini adalah suatu bagian dari bantaran genangan sungai, dan merupakan sistem yang direkayasa, dikelola untuk pengendapan dan pengendalian tailing.
Sistem pengelolaan ini dijalankan di bawah rencana pengelolaan tailing komprehensif Freeport Indonesia, yang disetujui oleh Pemerintah Indonesia setelah melakukan banyak studi teknis dan suatu proses peninjauan ulang secara tahun-jamak.
Sistem ini melibatkan pembangunan struktur penampung lateral, atau tanggul, untuk daerah pengendapan.
Tanggul-tanggul ini belakangan diperluas dan pekerjaan secara terus-menerus dilakukan untuk berbagai perbaikan sistem, termasuk pemeriksaan, pemantauan, dan pembangunan fisik.
PT Freeport secara terus-menerus mengevaluasi dan memutakhirkan rencana pengelolaan tailing untuk meminimalkan risiko.
“Apabila pertambangan berakhir, penelitian kami memperlihatkan bahwa daerah pengendapan ini dapat direklamasi dengan vegetasi alamiah atau dapat dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian, kehutanan, atau perikanan. Rata-rata biaya tahunan untuk melaksanakan program pengelolaan tailing ini selama tiga tahun terakhir sekitar 120 juta dolar AS,” demikian pernyataan di website resminya.
Baca juga:Cetak Rekor! Haji Isam Pesan 2.000 Unit Ekskavator dari China Senilai Rp4 Triliun
“Kami telah melaksanakan suatu program untuk mendaur ulang Tailing sebagai bahan campuran beton dalam pembangunan prasarana lokal. Sejak tahun 2007 sampai tahun 2014, bekerja sama dengan pemerintah daerah Propinsi Papua (PEMDA Papua) dan pemerintah daerah Kabupaten Mimika (PEMDA), kami telah menggunakan material Tailing sebagai unsur utama untuk membangun infrastruktur,” ungkapnya.(pwk)
Editor:purwoko