Semua sepakat jika pihak yang kalah menggunakan instrumen gugatan ke MK, Bawaslu dan DKPP jika memang belum puas dengan kekalahan. Tetapi di lain pihak butuh kearifan dan kedewasaan politik dari kubu yang kalah untuk mengakui kekalahannya tanpa memproduksi narasi kecurangan.

Prabowo sendiri juga pernah mengalami kekalahan di Pilpres 2009, 2014, dan 2019, narasi kecurangan TSM juga dihembuskan ketika itu.

Baca juga: Makan Siang Gratis Masuk Rancangan APBN 2025? FITRA: Sungguh Kelancangan Teknokratis

"Tapi Prabowo tampil sebagai sosok negarawan yang mengakui kekalahannya. Ia menerima silaturahmi lawan politik dan yang lebih hebat lagi adalah datang langsung diacara pelantikan Presiden dan Wakil Presiden terpilih," jelasnya.

Karena itulah, butuh sikap negarawan dari Anies-Muhaimin dan Ganjar-Mahfud untuk kemudian menyatakan bahwa Pilpres sudah selesai. Sudah waktunya semua pihak baik 01, 02 dan 03 bersatu kembali sebagai sebuah bangsa.

"Tidak mesti juga semuanya harus masuk pemerintahan, tetapi sudah tepat ada yg berposisi sebagai oposisi, sehingga ada penyeimbang kekuasaan di luar pemerintahan," katanya.

Namun tidak menolak juga jika memang Prabowo-Gibran merangkul Nasdem dan PKB untuk bergabung di pemerintahan. Karena kedua partai ini memang punya riwayat selalu bergabung dengan pemerintahan. Sementara PDIP dan PKS sudah tepat untuk menjadi oposisi.

"Kalaupun tergoda untuk masuk pemerintahan, juga sebenarnya tidak jadi masalah. Hanya saja kalau semua partai masuk pemerintahan, lantas siapa yang bisa mengontrol jalannya pemerintahan dimasa depan?" ujarnya.

Atau bisa saja PKB, Nasdem PKS dan PDIP berkomitmen untuk berada di luar pemerintahan. Itu juga baik. Intinya adalah akhirilah narasi kecurangan pemilu, jika semua proses dan instrumen politik sudah digunakan misalnya MK, Bawaslu, DKPP, dll.

"Dan saya termasuk orang yang berharap Anies-Muhiamin dan Ganjar-Mahfud hadir dalam pelantikan Prabowo-Gibran sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Agar tradisi yang selama ini dicontohkan oleh Prabowo yang selalu hadir di pelantikan lawan politiknya dalam hal ini Presiden Jokowi terus menjadi pembelajaran dan teladan politik yang berkesinambungan dimasa depan," pungkas Subiran. (Sidik Purwoko)