Dari garis ibunya, Guru Danau menjadi bagian dari zuriat Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari.
Guru Danau memiliki nama lain saat beliau kecil yaitu Zarkasyi.
Oleh seorang habib yang bernama Habib Salim Mangkatip nama itu diubah menjadi Asmuni yang menurut Guru Danau nama Asmuni itu berarti berharga.
Guru Danau hidup di lingkungan keluarga yang sederhana dan taat beragama.
Orang tuanya dahulu bekerja sebagai buruh kapal dengan pendapatan yang pas-pasan.
Walau demikian, tidak menghalangi semangat orangtuanya untuk membiayai pendidikan anak mereka di sejumlah pesantren baik yang berada di Kalimantan Selatan maupun di Pulau Jawa.
Guru Danau termasuk beruntung, karena tidak banyak orang di daerahnya yang mampu dan memiliki kesempatan ke Pulau Jawa untuk belajar meski dalam waktu singkat.
Guru Danau menempuh pendidikan tingkat dasar di Madrasah Ibtidaiah Pesantren Mu‟alimin Danau Panggang (tamat tahun 1971) dan Madrasah Tsanawiyah Pesantren Mu‟alimin Danau Panggang (tamat tahun 1974).
Setelah itu dia meneruskan studinya di tingkat atas (aliyah/ulya) di Pesantren Darussalam Martapura (tamat tahun 1977).
Selama belajar di Martapura, selain di Pesantren Darussalam, Guru Danau juga belajar dengan sejumlah ulama (tuan guru) lainnya di Martapura, di antaranya adalah Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Ijai atau Guru Sekumpul (wafat 2005) yang merupakan salah satu ulama kharismatik Kalsel.
Setelah tamat di pesantren Darussalam, Guru Danau sempat pulang ke kampung halamannya.







