WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Setelah pecahnya perang antara Israel dengan Hamas, para hacker pun mulai beraksi.
Beberapa kelompok peretas dikabarkan menargetkan situs-situs Israel.
Surat kabar Israel The Jerusalem Post melaporkan pada Sabtu pagi situs web milik mereka tidak aktif akibat serangan siber.
Tech Crunch melansir, Rob Joyce, direktur keamanan siber Badan Keamanan Nasional, mengatakan telah terjadi serangan penolakan layanan (DDoS) dan perusakan situs web. Namun, ia tidak mengaitkan serangan siber tersebut dengan kelompok tertentu.
Pernyataan Joyce mengkonfirmasi temuan peneliti keamanan Will Thomas bahwa dia telah melihat lebih dari 60 situs web dihapus karena serangan DDoS, dan lebih dari lima situs web dirusak pada hari Senin, 9 Oktober 2023.
“Hal yang mengejutkan saya tentang hacktivisme seputar konflik ini adalah banyaknya kelompok internasional yang terlibat, seperti kelompok yang diduga berasal dari Bangladesh, Pakistan, dan Maroko,” ungkap Thomas, Selasa (10/10).
Kelompok hacktivist biasa melancarkan serangan siber selama konflik bersenjata, seperti yang terjadi di Ukraina.
Para peretas ini seringkali tidak berafiliasi dengan pemerintah mana pun, melainkan kelompok peretas yang bermotif politik dan terdesentralisasi.
Kendati demikian, terkait hal ini NSA dan Konsulat Jenderal Israel di New York belum memberikan komentar.







