Chicha Koeswoyo Mualaf di Usia 16 Tahun, Ungkap Kehebatan sang Mama yang Nonmuslim
Esok harinya, sekitar jam 6.30 pagi, kami mengendap-endap membuka membuka pintu depan.
Setelah itu membuka pagar sampai terbuka lebar. Kami berdua mendorong mobil dalam keadaan mesin mati supaya tidak terdengar oleh orangtua kami yang masih tenggelam dalam nyenyak.
Pada satpam yang menjaga rumah, aku berpesan, “Kalau ada yang tanya, bilang kami mau latihan basket, ya, Pak?”
“Siap, Non!” kata Sang Satpam entah curiga atau tidak.
Setelah mobil dirasa cukup jauh, aku menghidupkan mobil dan meluncur langsung ke masjid terdekat.
Sesampainya di sana, banyak tetangga-tetangga menatap kami dengan paras keheranan. Mereka tentu saja bingung karena semua orang tau bahwa aku beragama Kristen. Bahkan barisan ibu-ibu yang duduk tepat di depan kami langsung mendekatkan kepalanya dan berbisik kepada kami.
“Cha, ngapain kamu di sini? Sholat Idul Fitri itu buat kaum muslim. Kamu kan Kristen?”
Aku cuma tersenyum dan tidak berusaha menjawab.
Sementara ibu-ibu lain terus berkasak-kusuk sambil menengok bahkan ada yang menunjuk-nunjuk ke arah kami.
Kami bergeming dan tidak mempedulikan sikap orang yang merasa aneh dengan kehadiran kami.
Dan akhirnya sholat Idul Fitri dapat kami ikuti dengan sukses.
Dengan hati berbunga-bunga kami kembali pulang.
Alhamdulillah…
Baru saja sampai di depan pagar, di depan rumah telah berdiri Papa dan Mama.
Mereka membantu membuka pagar, membuka pintu mobil lalu Mama langsung menlontarkan pertanyaan tanpa basi-basi.
“Dari mana kalian?” tanya Mama dengan suara keras.
“Abis latihan basket, Ma,” sahutku.
Kami berdua memang telah berganti pakaian dan semua mukena dan sajadah sudah dimasukkan ke dalam tas dengan rapih.
“Kalian jangan berbohong, ya? Mama menangkap ada yang aneh dengan kalian berdua,” kata Mama lagi.
Aku menatap Mama yang nampak sangat kesal.
Sementara Papa cuma cengar-cengir bahkan mengedipkan sebelah matanya pada kami.
“Kami latihan basket, Ma. Masa Mama gak percaya sama anak sendiri?” kata adikku.