Dengan diam-diam kami berdua pergi ke sebuah toko muslim yang letaknya tidak jauh dari rumah.
Di sana kami membeli mukena, Kitab Suci Al’Quran dengan tafsir dan terjemahannya.
Tidak lupa sebuah buku yang berjudul ‘Tuntunan Sholat’.

Sesampainya di rumah, kami berdua mempelajari cara berwudhu, melakukan sholat dan menghafal bacaannya.
Setelah dirasa mampu, kami berdua mencoba mendirikan sholat bersama-sama.
Perbuatan kami tentu saja di luar pengetahuan kedua orangtua.
Pernah suatu kali Mama mengetuk pintu dan sangat marah karena kami mengunci kamar dari dalam.
Begitu mendengar teriakan Mama, secepat kilat kami membuka mukena dan menyembunyikannya di laci paling atas.

“Dengar, ya, Nduk! Kalian nggak boleh mengunci pintu kamar. Selama kamu tinggal di rumah Mama, kalian ikut peraturan Mama,” bentak ibuku dengan galak.

“Iya, Ma,” sahutku dengan suara perlahan karena tak ingin ribut dengan Mama apalagi kami sangat perlu menjaga kerahasiaan ini.

Waktu terus berlalu.
Bulan Ramadhan pun datang.
Tentu saja di bulan suci seperti ini, kami juga ingin melakukan puasa seperti muslim lainnya.
Berpuasa dari waktu subuh sampai magrib sebetulnya sama sekali tidak sulit.
Masalah yang lebih pelik datang setiap kali Mama mengajak makan bersama. Mama tentunya curiga karena kami berdua selalu menolak.

“Aku udah makan di sekolah tadi, Ma,” kataku dengan suara bergetar.

Mama menatap aku dengan tajam. Sepertinya dia telah mencium ada yang tak beres dengan kami berdua. Ketegangan pun terjadi. Buatku itu adalah saat yang sangat menegangkan sampai akhirnya Mama menghela napas panjang dan berkata, “Baiklah kalau begitu.”

Bulan penuh rahmat berlalu.
Suara takbir yang begitu merdu di telinga berkumandang.
Idul Fitri adalah hari kemenangan, dan kami tidak mau kehilangan momen untuk sholat bersama Jemaah yang lain.
Aku dan Adikku berdiskusi menyusun strategi bagaimana cara pergi ke masjid tanpa sepengetahuan orang rumah.