Situasi itu pun diperparah dengan kemunculan pandemi Covid-19 yang membuat negara itu menutup perbatasan dan menangguhkan semua perdagangan.
Meski kini angkutan kereta api telah dibuka kembali, namun kekurangan makanan masih berlangsung, bahkan lebih parah dari sebelum pandemi.
Belakangan ini, bantuan-bantuan asing juga dilaporkan mulai menurun di Korut.
Pada 2016 dan 2020, Pyongyang menerima bantuan sekitar US$40 juta atau setara Rp611 miliar, menurut Layanan Pelacakan Keuangan Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB.
Namun pada 2021, bantuan itu turun drastis jadi US$14 juta atau setara Rp214 miliar, makin merosot lagi menjadi US$2,3 juta atau Rp35 miliar pada 2022.
Kendati demikian, warga percaya bantuan yang sedikit itu masih bisa menghidupi anak-anak di panti asuhan sehingga mereka berani meninggalkan buah hatinya berada di sana.
Kabupaten Pukchang merupakan salah satu wilayah yang mengalami peningkatan jumlah anak di panti asuhan.
Seorang sumber mengatakan dua panti asuhan di daerah itu kerap menemukan bayi yang ditelantarkan di depan pintu masuk panti setiap pekan.
“Di lingkungan Ryonpo tempat saya tinggal, mereka mengubah pusat rekreasi menjadi panti asuhan pada 2012,” kata sumber lainnya.
Dia melanjutkan, beberapa hari yang lalu, ada seorang anak laki-laki berusia 3 tahun yang ditemukan menangis di depan pintu panti. (berbagai sumber)
Editor: Yayu
Baca Juga: Ini Penyebab Kebakaran SMKN 2 Kandangan dan Jumlah Ruangan yang Terdampak












