WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Hingga Selasa (19/5/2026), nasib 3 jurnalis dan 6 aktivis Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF), masih belum jelas.
Mereka dikabarkan telah diculik oleh militer Israel saat terjadi pencegatan kapal-kapal yang mengangkut tim misi kemanusiaan internasional GSF.
Koordinator Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) Maimon Herawati mengungkapkan ada puluhan kapal yang membawa 450 relawan GSF yang dicegat kapal-kapal militer Israel saat berlayar di Laut Lepas Mediterania.
Pihak GPCI mendapat kabar militer Israel mulai mencegat kapal-kapal yang berlayar menembus blokade Gaza, Senin siang kemarin.
“Ini tindakan yang melanggar hukum humaniter internasional. Mengingat setelah cegatan terhadap Kapal Tarbiyya, tentu juga akan mengancam kapal-kapal lain yang berlayar untuk misi kemanusiaan tersebut,” ujarnya.
Baca Juga: DPR Terusik Kasus Dugaan Penganiayaan oleh Eks Istri Andre Taulany, Bawa ART ke LPSK
Dalam misi tersebut ada beberapa relawan atau delegasi kemanusiaan dari Indonesia yang tergabung dalam GPCI.
Yakni, para aktivis Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Spirit of Aqsa, dan SMART 171.
Selain itu ada tiga jurnalis dari Republika, iNews TV, dan Tempo.
Menyikapi kejadian itu, Kemenlu RI menyatakan mengecam keras tindakan militer Israel.
Kemenlu RI mendesak Pemerintah Israel segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan.
“Kami akan terus menjalin komunikasi dengan berbagai pihak terkait untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi para WNI, sekaligus menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi pelindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan,” ujar Juru Bicara Kemenlu RI Yvonne Mewengkang.







