Meski curah hujan tinggi, namun ia menekankan belum ada laporan kebun petani cabai yang kebanjiran.
Kendati begitu, tetap saja kekhawatiran petani, kata Abdul, bukan hanya banjir di kebun, melainkan juga cabai yang rusak karena hujan.
Kekhawatiran juga dirasakan oleh Ketua Umum Koperasi Pasar Induk Cipinang, Zulkifli Rasyid yang mengatakan curah hujan tinggi membuat harga beras ikut terkerek sejak Agustus 2022.
“Kendalanya pasokan dari daerah berkurang sedangkan permintaan pasarnya meningkat,” jelasnya.
Menurutnya, saat ini petani beras tengah memasuki masa tanam dan diperkirakan panen pada awal tahun depan atau 100 hari lagi.
Jika hujan terus terjadi, maka dikhawatirkan akan terjadi gagal panen, sehingga stok beras akan makin berkurang.
“Sekarang ini ada panen tapi panen gadu (satu-satu/tidak merata) tidak mencukupi. Jadi yang kita khawatirkan nanti Desember, Januari, Februari gimana? Sekarang aja stok Bulog sudah berkurang,” tegasnya.
Zulkifli menyebutkan saat ini harga beras di Pasar Cipinang Rp9.200 per kg untuk jenis medium dan Rp10.500 per kg – Rp11 ribu per kg untuk jenis premium.
Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI), Juwari mengatakan belum ada kendala atau masalah akibat curah hujan ke hasil pertanian bawang merah.
“Saat ini masih aman belum ada gangguan yang berarti,” ujarnya. (berbagai sumber)
Editor: Yayu







