500 Hektare Hutan Kalsel Disiapkan untuk ‘Paru-Paru Dunia’

Dengan demikian lanjutnya, kegiatan pengolahan sumber daya alam di Kalsel harus dalam waktu bersamaan dengan upaya perbaikan lingkungan, seperti membangun ekosistem, yang nantinya sebagai sumberdaya ekonomi yang berkelanjutan yang tentunya untuk kemakmuran dan
kesejahteraan masyarakat.

Dalam pembangunan ekonomi berkelanjutan, Pemprov Kalsel juga membangun ekosistem biodeversity ekonomi dengan rencana transformasi kawasan industri berbasis keanekaragaman hayati yang memproduksi berbagai kekayaan sumberdaya hayati dan jasa lingkungan menjadi produk- produk unggulan yang memiliki nilai ekonomi tinggi yang akan menjamin keberlanjutan.

Saat ini sudah terbangun pabrik B30 yang telah mampu melakukan subsitusi energi fosil sebesar 810 ton/hari.

Potensi investasi hijau di Kalsel sangat besar jelas Paman Birin. Berbagai pembangunan pembangkit listrik tenaga air, energi baru, pengelolaan sampah dan limbah menjadi energi terus dilakukan untuk kelestarian lingkungan.

“Kami menyadari bahwa dalam mewujudkan green economy atau ekonomi hijau diperlukan
intervensi teknologi yang cukup besar. Untuk itu, melalui forum ini kami juga berharap dukungan pemerintah pusat dan global untuk bersinergi mewujudkan Kalimantan sebagai pusat peradaban ekologis di Indonesia,” ujarnya. (aqu/adpim)

Editor Restu