Yusuf pun terpaksa menumpang menginap di rumah keluarganya di Landasan Ulin Banjarbaru. Seminggu setelahnya, pada Selasa (31/5/2022) mantap menuju RSUD Ulin dan tiba pukul 07.00 wita dan mendaftarlah di Ruang Instalasi Radiologi yang ada di lantai empat.

Rela mengantri, akhirnya giliran Yusuf menjalani pemeriksaan pukul 16.00 Wita.

"Perawatnya menanyakan apakah sudah makan atau belum, kemudian hanya ditensi saja," kata Yusuf kepada wartabanjar.com.

Petugas itu kemudian menyuruhnya datang kembali pada Kamis (2/6/2022).

Diantar keluarganya, Yusuf kembali mendatangi RSUD Ulin Banjarmasin. Kembali ke Instalasi Radiologi dan petugas pun memeriksa berkas-berkas hasil pemeriksaan sebelumnya.

"Petugas yang jaga di lantai empat hari Kamis kemarin itu kemudian menyuruh ke laboratorium yang ada di lantai satu untuk cek darah," tuturnya.

Namun setibanya di lantai satu ruang laboratorium untuk cek darah, ternyata sekitar pukul 10.00 Wita sudah tutup. Penjelasan petugas kala itu, ada yang rusak pada mesin, dan kembali mendapat pemberitahuan agar kembali datang minggu depan.

"Kami heran, diperiksa hanya tensi tetapi dalam laporan Formulir Pemeriksaan Radiologi dicontreng CT Whole Abdomen. Kalau hanya sekedar tensi, Mantri dikampung kami saja bisa," kata kerabat Yusuf, Rani.

Pihak keluarga tambah heran, ketika petugas menyodorkan formulir Lembar Permintaan Pemeriksaan Penunjang Diagnostik, yang digunakan sebagai lampiran tagihan rawat jalan padahal tidak menjalani pemeriksaan apa-apa dan hanya tensi darah.

"Ada rasa jera kembali berobat ke RSUD Ulin Banjarmasin ini, karena kami dari kampung dan hanya menghabiskan ongkos. Sampai di rumah sakit ternyata hanya tensi," keluh Rani. (Has)

Editor : Hasby