Kepanikan dan Kecemasan Landa Warga di 27 Kota China Akibat Lockdown
Kisah serupa telah dilaporkan dari bagian lain negara itu juga.
Pada Maret, mahasiswa di sebuah universitas yang terkunci di Kota Jilin memohon bantuan, mengatakan bahwa mereka dibiarkan berjuang sendiri tanpa persediaan bahan-bahan baku.
Masih di bulan yang sama, beberapa penduduk Changchun melaporkan kesulitan perawatan medis untuk penyakit non-covid seperti kanker atau kondisi ginjal, karena rumah sakit menolak pasien.
Insiden-insiden ini terjadi di Shanghai, kota yang sejak lama dipandang sebagai kota paling modern dan kosmopolitan di China.
Meskipun Beijing belum membatasi pergerakan orang di luar area berisiko tinggi, banyak penduduk mulai melakukan pembelian panik minggu ini, sehingga muncul antrean panjang di kasir supermarket dan rak-rak yang kosong.
Penguncian dan pembatasan telah memukul aktivitas ekonomi, terutama di kota-kota penting seperti Shanghai dan Shenzhen. Pengangguran mencapai level tertinggi 21 bulan pada Maret.
Banyak bisnis terpaksa menangguhkan operasi di beberapa lokasi, termasuk pembuat mobil Volkswagen dan Tesla dan perakit iPhone Pegatron.
Mata uang China, yuan, melemah dengan cepat minggu ini, terjun ke level terendah sejak November 2020. (*)
Editor: Erna Djedi