Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, hal ini karena kemungkinan kepadatan dan mobilitas peserta yang tinggi memungkinkan seringnya interaksi langsung antara orang-orang.

Oleh karena itu, menurut Tjandra yang pernah menjabat sebagai Direktur WHO Asia Tenggara dan Dirjen P2P & Ka Balitbangkes itu, pembatasan sosial termasuk salah satu dari tiga program utama berbagai negara untuk dapat mengendalikan kasus COVID-19.

Dia mengatakan, selain dari penerapan protokol kesehatan yang dilakukan masyarakat, pemerintah perlu konsisten dalam kebijakan pembatasan sosial itu.

PPKM Bukan Berarti Kehilangan Peluang Bersosialisasi

Penyesuaian kegiatan masyarakat tak berarti membuat Anda kehilangan peluang bisa berhubungan secara tatap muka dengan orang lain termasuk sosok-sosok tersayang di sekitar Anda.

Manusia terlahir sebagai makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan orang lain, tetapi di masa pandemi saat ini, terkadang kesempatan untuk bertemu tatap muka nyaris berkurang.

Di sinilah, Anda perlu beradaptasi dengan kondisi, termasuk menerapkan protokol kesehatan selama berinteraksi, menurut psikolog klinis dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Nirmala Ika, M.Psi.

Anda masih bisa bertemu langsung dengan mereka, namun tak bisa sesering dulu.

Bersikap bijak, salah satunya adalah mempertimbangkan urgensi dan situasi juga menjadi penting.

"Yang bisa kita lakukan mengurangi, jadi belajar beradaptasi misalnya yang tadinya harus bertemu orang setiap hari sekarang jadi tidak usah. Beberapa orang sudah melakukan itu," tuturnya.

Di sisi lain, sebenarnya Anda masih bisa memanfaatkan teknologi misalnya melakukan percakapan suara dan video melalui sejumlah platform seperti WhatsApp Call, Zoom, Google Meet dan lainnya.

Walau begitu, cara ini tidak bisa memberi semua orang kualitas yang sama seperti beinteraksi tatap muka, seperti yang diungkapkan Umi Fadhila (30).