“Kalau di Inggris ini, guru mengaji tidak banyak, jadi sebagai orangtua saya harus disiplin mengajari anak mengaji. Kalau tidak, ya mereka tidak ada yang mengajari,” kata Suwondo yang merupakan mahasiswa master di University of Southampton.
Pria kelahiran Lamongan ini menegaskan dia meluangkan waktu khusus tiap hari untuk mengajar anak mengaji.
“Jadi saya luangkan waktu khusus tiap hari, agar anak-anak mau dan disiplin. Memang agak berat dan orangtuanya harus bisa mengaji dulu sebelum mengajar anak-anak,” katanya.
Lebih lanjut, Suwondo yang juga pegawai di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan RI itu mengungkapkan memang ada beberapa pengajian Alquran untuk anak-anak di Southampton, kota tempat tinggalnya saat ini.
“Ada beberapa pengajian untuk anak-anak di kota ini, yakni di masjid Abu Bakar, di masjid Madinah kawasan Saint Mary, juga di masjid Basher Ahmad di Portswood. Tapi memang kalau tiap hari ke masjid itu, anak-anak capek juga karena seharian juga sekolah dari pagi hingga sore,” ungkapnya.
Badriyah, seorang Muslimah Indonesia di Inggris menjelaskan betapa harus ada trik khusus untuk mengajari anak-anak mengaji.
“Ya memang di Inggris ini kan kulturnya agak bebas, Muslim bukan menjadi mayoritas, jadi kami harus berjuang dan disiplin agar nilai-nilai agama tertanam di anak-anak kami. Usia dini inikan golden age, jadi kalau terlewat, nanti susah mengajarnya. Saya mengajari sendiri anak-anak di rumah,” sebutnya.
Ia menambahkan, waktu favorit bagi anak-anak untuk mengaji adalah di pagi hari sebelum berangkat sekolah dan malam menjelang tidur.
“Jadi biasanya, pagi dan malam. Pagi sebelum berangkat sekolah itu baca satu lembar Alquran dan malam jelang tidur, saya ajari untuk hafalan surat-surat. Tentu, metodenya tidak ketat atau kaku, agar anak tidak bosan. Ya mereka mengaji sambil bermain, yang penting jalan terus,” kata Badriyah, yang merupakan pengajar di University of London. (ant)
Editor: Yayu Fathilal






