WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN-Kabar duka datang dari dunia seni tradisional Banjar.
Hari ini, Minggu (28/2/2021) pukul 05.30 Wita, satu maestro kesenian lamut, Gusti Jamhar Akbar meninggal dunia di usia 79 tahun.
Kabar ini beredar di grup Facebook Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan.
“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun Beliau meninggal tadi pagi.Info dari keluarga dekat (anak beliau) Alfatiha,…Gusti Jamhar Akbar,” demikian kabar duka yang diunggah seorang netizen di grup itu.
Diketahui, rumah duka di Jalan Alalak Selatan RT 06 Gang Mujahid Aman, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Dikutip dari berbagai sumber, Gusti Jamhar Akbar mewarisi kesenian lamut dari orangtuanya yang juga seorang seniman lamut (palamutan).
Dia menggeluti kesenian lamut sejak kecil.
Berkat dedikasinya di bidang kesenian lamut, dia dinobatkan pemerintah sebagai maestro lamut.
Sekadar informasi, lamut adalah satu kesenian tutur khas Banjar yang sekarang makin punah.
Terlebih lagi, satu per satu senimannya meninggal dunia dan generasi mudanya jarang ada yang tertarik menggelutinya.
Seni berkisah itu juga semakin ditinggalkan karena generasi muda tak lagi tertarik memainkannya karena dianggap membosankan.
Karena itulah, meski sudah tua, Jamhar terus memainkan lamut di Radio Republik Indonesia (RRI) Banjarmasin, setiap Jumat malam saat masih hidup.
Seni bertutur Lamut merupakan seni cerita bertutur, seperti wayang atau cianjuran. Bedanya, wayang atau cianjuran dimainkan dengan seperangkat gamelan dan kecapi, sedangkan lamut dibawakan dengan terbang, alat tabuh untuk seni hadrah.
Mereka yang baru melihat seni lamut selalu mengira kesenian ini mendapat pengaruh dari Timur Tengah.
Pada masa Kerajaan Banjar dipimpin Sultan Suriansyah, lamut hidup bersama seni tutur Banjar yang lain, seperti dundam, madihin, bakesah, dan bapantun.
“Padahal, kesenian ini sebenarnya berasal dari China,” katanya dalam sebuah wawancara beberapa tahun silam.
Dalam keluarga Jamhar, kesenian ini diwariskan secara turun-temurun.
Dia adalah keturunan keempat.
Pertama kesenian lamut dikuasai oleh datunya (buyut), Raden Ngabe Jayanegara dari Yogyakarta.
Raden Ngabe belajar lamut saat menjadi utusan Kerajaan Banjar yang bertugas di Amuntai, kini ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara.
Ceritanya, di Amuntai, Raden Ngabe bertemu pedagang China pemilik kapal dagang Bintang Tse Cay.







