Dari pedagang itulah ia pertama kali mendengar alunan syair China dan beberapa bulan kemudian dia mendapatkan salinan syairnya.
Sejak itulah kakek buyutnya tersebut menjadi palamutan, ditambah lagi kepiawaiannya disukai masyarakat dan keahliannya itu kemudian diturunkan ke anak cucunya untuk dilestarikan.
“Buku salinan cerita lamut yang dimiliki keluarga itu masih ada sampai sekarang,” kata Jamhar.
Lamut dalam sejarahnya ada dua jenis, yaitu lamut tatamba untuk pengobatan dan lamut karasmin untuk hiburan.
Masa kejayaannya sebagai palamutan adalah antara tahun 1950an hingga 1960an.
Dia kerap diundang hingga ke luar daerah.
“Pada masa itu saya hanya bisa istirahat pada malam Jumat,” ucapnya.
Cerita lamut yang dibawakan Jamhar bisa dimainkan bersambung selama 27 malam.
Pada 1982 di Kalsel ada 112 pelamutan.
Kala itu, Jamhar, yang berusia 40 tahun, termasuk pelamutan muda. (brs/berbagai sumber)
Biodata:
Nama : Gusti Jamhar Akbar
Lahir : Alalak (Banjarmasin), 7 November 1942
Istri : Nur Asia atau Chen Kwan Chen
Orangtua : Raden Rosmono dan Gusti Ardiani
Anak : 1. Nur Aina 2. Ruwaida 3. Mahrita 4. Pansurna 5. Aminin 6. Mursalin
Cucu : 12
Buyut : 2
Pendidikan: – Sekolah Rakyat, sampai kelas V
Pekerjaan: – Seniman lamut
Prestasi: – Penghargaan Terbaik II Lomba Seni Lamut yang diadakan Kepolisian Daerah Kalsel, 1980 – Penghargaan seniman tradisional dari Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan Banjarmasin, 2006







