Maslian Masih Berharap Temukan Jasad Idrus di Bekas Banjir Hantakan HST

Nahas, warga yang bertahan diterjang banjir melihat rumahnya terbawa arus sampai ke sungai yang mengamuk.

Sampai sekarang tak terlihat di desa itu upaya pencarian oleh relawan ataupun yang orang ahli dalam pencarian manusia yang hilang di telan bencana, mungkin karena banyak prioritas yang harus dilakukan pascabanjir.

Sama halnya dengan kisah satu keluarga di Dusun Mandila, Desa Patikalain, di kecamatan yang sama tertimbun longsor beserta rumah di lereng bukit kaki pegunungan meratus.

Korban bernama Yansyah (Suami), Icam (Istri), Idun anak pertama, Yanda anak ke dua dan Lia anak ke empat.

Anak ketiga berhasil diselamatkan warga setempat di malam kelam diguyur hujan saat itu. Tidak lama, di bawah tanah yang pekat berlumpur itu ditemukan jasad Icam dan Yanda.

Cerita itu dibawa Yani tidak lain ayah kandung Yansyah Kepala Keluarga itu, saat turun gunung mengambil kebutuhan hidup di Posko khusus masyarakat pedalaman di Desa Hantakan bersama keluarganya.

Anak dan cucunya sampai sekarang masih belum didapat, tinggi tanah tak memadai dengan peralatan dan tenaga untuk digali.

“Pakai tangan dan cangkul menggali tanah longsor itu,” cerita Yani lirih, kedua telapak tangannya keras penuh goresan.

Kedua orang yang tertimbun itu, juga masuk kedalam daftar pencarian orang yang sampai saat ini belum ditemukan.

Sama seperti nenek Maslian, Yani sangat berharap dapat mengubur anak dan cucunya dengan layak dan sebagai mana mestinya. (ant)

Editor: Erna Wati