Kasus Bunuh Diri Meningkat, BRIN Ungkap Gender dan Penyebab yang Terbanyak

WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Kasus bunuh diri akhir-akhir ini begitu meningkat, bahkan pelakunya berusia muda.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setidaknya lebih dari 800.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya, dan yang tertinggi adalah pada usia muda (data 2019).

Peneliti Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi, Organisasi Riset Kesehatan – BRIN, Yurika Fauzai Wardhani, dari 2.112 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang tahun 2012 sampai 2023, ada 985 kasus yang terjadi pada remaja atau sekitar 46,63% dari keseluruhan jumlah.

“Kasus bunuh diri pada remaja akhir, dari tahun ke tahun jumlahnya semakin meningkat dibandingkan remaja awal. Seluruh provinsi di Indonesia ada kasus bunuh diri dan yang terbesar ada di Jawa Timur dan sebagian Jawa Barat,” ujar Yurika pada acara “Meningkatkan Kesadaran, Menyelamatkan Masa Depan: Webinar Kesehatan Jiwa Remaja Menyongsong Momentum Bonus Demografi 2030-2045”, Selasa (21/11).

Lebih lanjut ia mengungkapkan, dari data yang didapatkannya melalui analisis web scrapping, ternyata laki-laki mempunyai kecenderungan lebih banyak melakukan bunuh diri.

Baca juga: Dinkes Banjarmasin Gelar Workshop Sosialisasi dan Advokasi Program Surveilans

“Di budaya kita laki-laki dituntut berperan lebih dari wanita, memiliki beban lebih besar, dan kurang mempnyai kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya. Sementara jika dilihat dari tingkat pendidikan, yang paling banyak melakukan bunuh diri adalah mahasiswa,” imbuhnya.

Sementara itu, alasan bunuh diri yang paling banyak terjadi adalah karena romantic problem (masalah percintaan).

Selanjutnya karena alasan personal problem yang orang lain tidak bisa pahami.

Love and belonging needs seseorang cukup besar sehingga apabila tidak atau kurang terpenuhi dapat memicu keinginan bunuh diri.

“Kebutuhan itu harus terpenuhi, karena ketika mereka tidak merasa dicintai dan kepemilikan tidak terpenuhi maka akan menimbulkan stress, yang bisa berujung pada keinginan suicide,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, Sekjen Konsorsium Pekerja Sosial Indonesia, Nurul Eka Hidayati mengungkapkan, terdapat aspek psikososial yang mempengaruhi kesehatan jiwa dan resiko bunuh diri pada remaja.

Baca juga: Remaja Pamer Kelamin ke Siswi SMP di Depok Ditangkap, Sudah 17 Kali Beraksi

Aspek-aspek tersebut antara lain masalah kesehatan jiwa yang sudah dimiliki sebelumnya; disabilitias; umur; jenis kelamin; gender expression dan sexual orientation; etnik atau ras; kekerasan fisik psikologis, dan seksual; pekerjaan dan pengangguran; pendidikan; substance abuse; disfungsi keluarga; spiritual dan religion; media sosial/internet; lack of social support; minority; oppression; discrimination and prejudice.

Senada dengan hal tersebut, Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Gadjah Mada, Diana Setiyawati menyebutkkan terdapat dua kebutuhan psikologis pada remaja yang harus dipenuhi yaitu belongingness dan relationship.