17 Ikan Aligator Disita DKP3 Banjarmasin, Berbentuk seperti Buaya dan Torpedo
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Sebanyak 17 ikan Aligator (Alligator Gar) disita oleh Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Banjarmasin.
Ikan yang bentuk fisiknya seperti buaya ini ditemukan tim DKP3 dan Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), ketika melaksanakan pengawasan terhadap peredaran jenis ikan yang dilindungi atau berbahaya bagi ekosistem perairan di Banjarmasin.
Dalam razia tersebut, petugas mendapati penjualan ikan Aligator yang berasal dari Perairan Amerika Utara dan Tengah ini di salah satu toko ikan hias di Banjarmasin.
Ikan Aligator yang bernama ilmiah Atractosteus spatula adalah salah satu spesies ikan air tawar purba terbesar.
Tubuh ikan ini seperti torpedo, biasanya dengan warga dasar cokelat atau zaitun.
Ia memiliki moncong pendek dan lebar serta gigi tajam mirip buaya.
Ikan Aligator juga memiliki sisik ganoid yang sangat keras, tebal, dan menyerupai tulang.
Adapun ukuran Alligator Gar yang dilarang dipelihara dan diperjualbelikan di Indonesia ini, bisa sepanjang tiga meter dengan berat lebih dari 100 kilogram.
Baca Juga: Karhutla di Banjarmasin, Kepala BPBD: Kita Sudah Lama Ingatkan Jangan Main Api
Baca Juga: Operasi SAR Resmi Ditutup, Orangtua Korban Kapal Virgo yang Masih Hilang Pertanyakan Nasib Anaknya
"Petugas langsung menyita dan memusnahkan seluruh 17 ekor ikan aligator sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku, dengan koordinasi bersama instansi PSDKP," kata Kabid Perikanan DKP3 Banjarmasin, Hidayatul Fikri, Kamis (5/11/2026).
Ia mengungkapkan, kegiatan pengawasan merujuk pada Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19/PERMEN-KP/2020 tentang Larangan Pemasukan, Pembudidayaan, Peredaran, dan Pengeluaran Jenis Ikan yang Membahayakan dan/atau Merugikan ke Dalam dan dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
Ditegaskan pula, tindakan diambil untuk melindungi keanekaragaman hayati dan habitat ikan asli lokal dari ancaman predator.
"Ikan Aligator ini memiliki potensi memangsa ikan spesies lain secara masif, sehingga mengancam populasi ikan lokal dan merusak keseimbangan ekosistem perairan apabila sampai terlepas ke perairan," kata Hidayatul Fikri.