Tak hanya itu, Cak Imin menilai pesantren memiliki potensi besar menjadi salah satu pusat penanggulangan kemiskinan melalui dua jalan utama yaitu pendidikan dan pemberdayaan.

"Pendidikan adalah cara utama memutus mata rantai kemiskinan dengan membekali santri skill, kapasitas, dan ilmu pengetahuan,”

”Sedangkan pemberdayaan berbasis kurikulum dan ekosistem ekonomi akan mendorong pesantren menjadi pelaku ekonomi yang produktif,” tuturnya. 

Saat disinggung mengenai arahan dan keterlibatan santri dalam menghadapi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kalsel. 

Cak Imin menegaskan pesantren pada dasarnya memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kelestarian alam.

​”Sebetulnya di mana ada pesantren, biasanya ada keberpihakan dan ada tindakan-tindakan preventif. Karena sudah banyak pesantren yang menjadi kekuatan penjaga lingkungan,” ungkapnya.

​Untuk itu, ia mendorong pemerintah daerah, pemerintah pusat, hingga Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk tidak ragu merangkul elemen pesantren serta kearifan lokal.

​”Nah, kita jadikan kebakaran hutan ini sebagai evaluasi. Sekarang kita jaga hutan ke depan dengan melibatkan masyarakat lokal,” pungkasnya. (wartabanjar.com)