Peringati Hari Santri di Banjarbaru, Menko Cak Imin Tekankan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren dan Mitigasi Karhutla
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Peringatan Hari Santri Nasional di Pondok Pesantren Al-Falah Putera, Kelurahan Landasan Ulin Barat, Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan berlangsung semarak, Sabtu (24/10/2026) sore.
Momen ini juga dihadiri langsung oleh Menteri Koordinator (Menko) Pemberdayaan Masyarakat RI, Muhaimin Iskandar, yang akrab disapa Cak Imin.
Selain memperingati Hari Santri, Cak Imin juga memberikan secara simbolis bantuan sarana dan prasarana serta sertifikasi kepada sejumlah pondok pesantren yang ada di Kalimantan Selatan.
Di hadapan media, Cak Imin menyoroti kondisi pesantren di tanah air yang menurutnya dari segi infrastruktur dan bangunan berkualitas baru mencapai sekitar satu persen.
”Mayoritas pesantren-pesantren itu berdiri mandiri, kokoh dengan keterbatasan-keterbatasan yang ada,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia memberikan rasa hormat, terima kasih, bangga, dan apresiasi tinggi kepada para pengelola pesantren yang terus berjuang mendidik anak-anak bangsa.
”Pemerintah akan berupaya semaksimal mungkin memberikan perhatian, bantuan, dan dukungan,” ucapnya.
Baca Juga Beredar Foto Diduga Menkes Budi Gunadi Hirup Bantuan Oksigen Saat Kunjungan ke Palangka Raya Kalteng
Baca Juga Zaskia Adya Mecca Sindir Menkes Budi Gunadi yang Tinjau Karhutla di Palangka Raya Kalteng
Cak Imin juga mengajak seluruh pesantren di Indonesia menjadikan momentum Hari Santri untuk melakukan transformasi dan pembenahan internal.
Ia bahkan menyarankan agar pesantren yang dinilai kurang efektif bisa melakukan penggabungan (merger).
”Langkah ini penting agar dari jumlah sekitar 40.000 pesantren di Indonesia, nantinya dapat terus kita dorong menjadi pesantren-pesantren yang benar-benar berkualitas,” tegasnya.
Tak hanya soal pendidikan, Kemenko Pemberdayaan Masyarakat juga berkomitmen mendorong ekosistem di lingkungan pesantren agar berkembang menjadi potensi ekonomi daerah.
”Karena memang di dalam situs pesantren yang santrinya sepert di Al-Falah ini ada 4.500, tentu ada ekosistem ekonomi yang mandiri, kekuatannya yang kokoh ini bisa diduplikasi menjadi sistem pengelolaan pesantren dan ekosistem ekonomi yang ada di lingkungannya, terutama masyarakat,” paparnya.