Bagi Puji, kesempatan berbincang langsung dengan orang nomor dua di Indonesia itu, menjadi pengalaman yang tidak disangka-sangka.

“Tadi ditanya-tanya sama Pak Wakil Presiden Gibran, Pak Gibran. Tidak nyangka, di depan mata,” ungkapnya haru.

Dampak asap karhutla juga dirasakan pasien anak yang menjalani perawatan di RSDI.

Salah satunya Aira, pelajar asal Martapura, yang telah dua hari menjalani perawatan setelah mengalami batuk, pilek, dan demam.

Keluhan tersebut disebut muncul, setelah Aira terpapar asap cukup tebal saat hendak berangkat sekolah.

Kondisi tersebut semakin menegaskan kekhawatiran terhadap anak-anak, yang harus tetap beraktivitas di tengah kualitas udara yang belum sepenuhnya membaik.

Kepala Staf Medis Fungsional Anak RSDI, Dr dr Harapan Parlindungan Ringoringo SpA, SubspHOnk(K), berharap kondisi karhutla segera teratasi sehingga paparan asap terhadap masyarakat, terutama anak-anak, dapat berkurang.

“Bagaimana caranya ini asap segera berhenti, entah pakai hujan buatan, entah pakai apa, karena sumber utamanya kan kebakarannya,” harapnya.

Ia juga berharap langkah mitigasi terus diperkuat, agar kejadian serupa tidak kembali memberikan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat.

Menurutnya, kondisi asap kali ini terasa cukup berat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Saya pribadi, di sini sudah 30 tahun. Sekitar 3-4 tahun sekali kayak begini. Tidak setiap tahun, tapi yang saat ini memang luar biasa dibandingkan tahun lalu,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, Gibran turut menyampaikan apresiasi kepada para dokter, perawat, dan seluruh tenaga kesehatan yang tetap memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Terima kasih untuk Bapak-Ibu dokter, perawat, dan tenaga kesehatan yang terus melayani masyarakat selama kondisi karhutla,” ucap Wapres.

Kunjungan Gibran ke RSDI Banjarbaru pun meninggalkan pesan sederhana: di balik persoalan karhutla dan asap yang menyelimuti sejumlah wilayah, ada masyarakat yang membutuhkan perhatian, terutama anak-anak, ibu hamil, lansia, dan kelompok rentan lainnya.

Bagi mereka, kepedulian dan hadirnya perhatian secara langsung menjadi bagian penting, untuk melewati masa sulit ketika udara belum sepenuhnya kembali bersih. (Wartabanjar.com)