Banjar Ingin Hentikan Pemasungan ODGJ, Stigma Masih Jadi Tantangan
WARTABANJAR.COM, GAMBUT - Pemerintah Kabupaten Banjar meminta agar tidak ada lagi kasus pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) maupun orang dengan masalah kejiwaan (ODMK).
Wakil Bupati Banjar Habib Idrus Al Habsyi mengatakan, upaya tersebut perlu dilakukan melalui penanganan sejak dini, pendampingan hingga memastikan ketersediaan obat di fasilitas kesehatan.
Hal itu disampaikannya saat membuka Rapat Kerja Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM) di Hotel Grand Tan, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Rabu (9/9/2026).
Menurut Habib Idrus, penanganan kesehatan jiwa tidak bisa hanya menjadi urusan Dinas Kesehatan.
Dukungan dari berbagai sektor diperlukan agar persoalan tersebut dapat ditangani secara menyeluruh.
Baca juga: Kemenag Kalsel Belum Terima Kronologi Dua Siswa MTs Al Furqon Banjarmasin Tewas Saat Kemah Akbar
Baca juga: Kebakaran Terjadi di Rawasari 14 Banjarmasin, Sumber Air Sulit
“Dinas Kesehatan tidak bisa berjalan sendirian tanpa dukungan dinas sosial, dinas pendidikan, para camat hingga aparat desa. Sinergi lintas sektor adalah suatu keharusan,” tegasnya.
Selain penanganan, ia menilai stigma terhadap orang dengan gangguan jiwa masih menjadi tantangan.
Anggapan gangguan jiwa merupakan aib dapat membuat penderita justru dikucilkan dari lingkungan.
“Tantangan terbesar kita adalah stigma yang menganggap gangguan jiwa sebagai aib. Di sinilah peran TPKJM,” ungkapnya.
Habib Idrus meminta TPKJM mengambil peran untuk mengubah pandangan tersebut di tengah masyarakat.
”Kita harus menjadi agen perubahan yang mengedukasi masyarakat bahwa gangguan jiwa adalah penyakit yang bisa diobati dan dikendalikan, bukan sesuatu yang harus dikucilkan,” pesannya.
Di sisi lain, jumlah warga yang mengalami gangguan kejiwaan di Kabupaten Banjar tercatat mencapai 1.153 orang berdasarkan data terakhir Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar H Noripansyah mengatakan, jumlah tersebut masih berpotensi bertambah karena belum seluruh kasus gangguan kejiwaan terlaporkan.
“Masih ada beberapa yang dipasung. Mudah-mudahan bisa kita tindak lanjuti lebih baik lagi,” ujarnya.