WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Kemarau Panjang mulai membuat petani padi di Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, kelimpungan. 

Tanaman padi di Kelurahan Palam, Kecamatan Cempaka, menguning karena kekurangan air hingga terancam gagal panen.

Sahwati, salah satu petani, menyebut hasil panen tahun ini bisa anjlok hingga sekitar 90 persen dibandingkan tahun sebelumnya jika kekeringan terus berlangsung.

Baca juga: Mahasiswa ULM Ikut Padamkan Karhutla di Banjarbaru dan Rasakan Sulitnya Pegang Selang

Baca juga: Pesawat BNPB Kembali Bawa 1 Ton Garam, OMC Sasar Awan Potensial di Tala dan Tanbu

Selain banyak daun yang mulai menguning, kulit bulir padi juga menjadi keras akibat tanaman tidak mendapatkan cukup air.

"Padinya banyak yang menguning. Kulit bulirnya juga keras karena kekurangan air," ujar Sahwati kepada Wartabanjar.com, Senin (7/9/2026).

Kondisi semakin sulit karena lahan pertanian yang mereka garap masih mengandalkan sistem pengairan tadah hujan.

Memasuki musim kemarau yang berlangsung sejak awal Juli, pasokan air hujan praktis tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman.

Petani lainnya, Sariyani, berharap pemerintah turun tangan dengan memberikan bantuan mesin pompa air. 

Peralatan tersebut dinilai sangat dibutuhkan untuk mengalirkan air ke lahan yang mulai mengering.

"Kami berharap ada bantuan mesin pompa air supaya air bisa dijangkau dan dialirkan ke lahan," kata Sariyani.

Petani kini berpacu dengan waktu. 

Jika tidak ada tambahan pasokan air, tanaman padi yang masih bertahan dikhawatirkan semakin rusak dan gagal menghasilkan bulir yang optimal.

Ancaman kekeringan juga membayangi lahan pertanian di wilayah lain di Kalimantan Selatan. 

Mengutip data Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kalimantan Selatan hingga akhir Agustus 2026, sekitar 8.000 hektare lahan pertanian di 13 kabupaten/kota terdampak kekeringan.

Kondisi ini menjadi alarm bagi sektor pertanian Kalsel.

Kemarau panjang bukan hanya membuat lahan mengering, tetapi juga mengancam hasil panen dan pendapatan petani. (wartabanjar.com)