Menurut Muhidin, Karhutla di lahan gambut memiliki karakter berbeda karena api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah.

Karena itu, meskipun api di permukaan sudah tidak terlihat, bukan berarti kawasan tersebut benar-benar aman.

Dalam pengecekan yang dilakukan bersama tim, masih ditemukan panas di dalam tanah.

Namun, Muhidin menyebut panas tersebut sudah jauh berkurang setelah dilakukan pembasahan.

“Setelah saya memasukkan sendiri itu ternyata di dalam ada panas, cuma kurang sudah,” ujarnya.

Pemprov Kalsel kemudian menerapkan metode pembasahan dengan memasukkan pipa ke dalam tanah gambut. 

Muhidin menyebut Pemprov Kalsel memiliki sekitar 60 unit peralatan yang dapat digunakan untuk mendukung penanganan karhutla dengan metode tersebut.

Tak hanya menggunakan air, dalam uji coba di lapangan juga digunakan campuran deterjen.

Sementara itu, Kapolda Kalsel memiliki metode pencampuran bahan lain yang disebut Muhidin lebih murah dibanding penggunaan deterjen.

Bagi Muhidin, keberadaan asap menjadi salah satu indikator penting dalam memastikan api di lahan gambut benar-benar padam.

Ia mengingatkan agar penanganan tidak berhenti hanya karena api di permukaan sudah tidak terlihat. (wartabanjar.com)