Arian menjelaskan, pola peningkatan karhutla juga terlihat dalam siklus beberapa tahun sebelumnya, yakni pada 2011, 2015, 2019, 2023, dan 2026.

Ia juga mengingatkan bahwa hotspot dan fire spot merupakan dua hal yang berbeda, sehingga data titik panas tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah titik kebakaran di lapangan.

Untuk memperkuat penanganan, wilayah Kalsel dibagi menjadi tiga zona.

Zona pertama mencakup kawasan Banjarbakula yang menjadi prioritas, terutama karena berdekatan dengan Bandara Syamsudin Noor. Wilayah ini meliputi Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Banjarmasin, Barito Kuala, dan Tanah Laut.

Zona kedua merupakan kawasan utara atau Banua Enam, mulai dari Tapin hingga Kabupaten Tabalong.

Sedangkan zona ketiga berada di wilayah timur Pegunungan Meratus, termasuk Tanah Bumbu, Kotabaru dan sebagian wilayah Tanah Laut.

Menurut Arian, karakteristik lahan di Kalsel juga berbeda. Wilayah barat Pegunungan Meratus banyak terdapat kawasan rawa dan gambut, sementara sisi timur lebih didominasi lahan mineral dan hutan.

Tiga Pos Lapangan Disiapkan
BPBD Kalsel juga menyiapkan tiga pos lapangan utama untuk memperkuat operasi penanganan karhutla.

Ketiga pos tersebut berada di Bungku Naram untuk wilayah utara, Pengayuan untuk wilayah selatan, serta Sambang Lihum di wilayah barat.

Selain tiga pos lapangan tersebut, pos pendukung juga telah disiapkan di seluruh kabupaten/kota.

Upaya penanganan turut dilakukan melalui pembasahan lahan dan pengelolaan saluran air. Sejumlah instansi, termasuk unsur kehutanan, lingkungan hidup, pekerjaan umum dan sumber daya air, terus berkoordinasi untuk menjaga kondisi lahan.

Salah satunya melalui pengaturan dan pembukaan saluran irigasi Riam Kanan yang telah dilakukan dalam beberapa pekan terakhir. Upaya tersebut mulai menunjukkan adanya peningkatan permukaan air di sejumlah lokasi.

1.700 Personel Disiagakan
Untuk mendukung penanganan karhutla, sekitar 1.700 personel beserta berbagai unit dan mesin telah disiapkan, dan disebar di seluruh kabupaten/kota di Kalimantan Selatan.

Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan, terutama menghadapi peningkatan karhutla pada puncak musim kemarau.