“Kami tidak menyangka akan mengalami masalah sebesar itu (pada Sprint). Kami pikir mungkin kami bisa bersaing untuk posisi keempat, kelima, atau keenam. Bukan posisi kesembilan,” ujar Tardozzi.

Ducati kemudian berusaha menghindari masalah serupa pada balapan utama. Namun, Marquez hanya mampu finis ketujuh, dan menjadi pebalap Ducati ketiga yang mencapai garis finis.

Hasil tersebut membuat Marquez hanya memperoleh 10 poin dari maksimal 37 poin, yang tersedia di Silverstone. 

Ia juga kembali tertinggal 40 poin dari Jorge Martin yang memimpin klasemen untuk Aprilia.

Menurut Tardozzi, kunci perebutan gelar bukan sekadar memenangkan setiap balapan.

Ducati harus mampu memaksimalkan poin ketika tidak memiliki motor tercepat dan memanfaatkan peluang ketika berada dalam kondisi kompetitif. 

“Untuk mencoba memenangkan kejuaraan, tidak perlu memenangi semua balapan,” kata Tardozzi. 

“Yang terpenting adalah mengumpulkan poin sebanyak mungkin ketika kita bukan yang tercepat, dan menyerang ketika kita menjadi yang tercepat,” ujarnya.

Seri Aragon menjadi salah satu peluang bagi Ducati. Marc Marquez dan Ducati memiliki catatan kuat di sirkuit tersebut, setelah memenangi empat balapan terakhir di sana.

Setelah Aragon, MotoGP akan berlanjut ke Misano. Sirkuit tersebut merupakan balapan kandang bagi Ducati dan Aprilia. 

Pada musim lalu, Marc Marquez dan Marco Bezzecchi masing-masing meraih kemenangan di sana. 

Setelah itu, persaingan berlanjut ke rangkaian balapan di Jepang, Indonesia, Australia, dan Malaysia. 

Dengan karakter sirkuit yang berbeda-beda, duel Ducati dan Aprilia diperkirakan masih akan berlangsung hingga seri-seri terakhir musim 2026. (Wartabanjar.com)