Secara teknis, MatrAIx menyediakan empat lingkungan pengujian, yakni Survey, AI Chatbot, Web, dan App. 

Dengan kata  lain, pengguna virtual dapat diminta mengisi survei, berinteraksi dengan chatbot layanan pelanggan, mencoba website, atau menjalankan tugas tertentu di sebuah aplikasi. 

MatrAIx juga menyediakan 1.010 tugas aplikasi yang mencakup lebih dari 25 bidang, termasuk perdagangan, software, keuangan, dan layanan kesehatan.

Misalnya, sebuah perusahaan ingin mengetahui apakah kenaikan harga akan membuat konsumen meninggalkan produknya. 

Alih-alih langsung merekrut ribuan responden, perusahaan dapat menjalankan simulasi menggunakan persona dengan karakteristik berbeda. 

Ada pengguna yang sensitif terhadap harga, pengguna yang loyal terhadap merek, hingga pengguna yang masih mau membayar lebih mahal selama layanan tetap memuaskan. 

Peneliti MatrAIx mengatakan simulasi mereka bahkan dapat menangkap perbedaan respons seperti keraguan setelah harga dinaikkan, keinginan melanjutkan penggunaan setelah chatbot AI gagal membantu, hingga toleransi pengguna terhadap waktu tunggu.

Kemunculan MatrAIx bisa menimbulkan satu pertanyaan. Jika perusahaan bisa menguji ribuan atau bahkan jutaan skenario menggunakan pengguna virtual, apakah mereka masih membutuhkan manusia untuk melakukan riset pasar? 

Pengujian dengan AI seperti ini secara logika memang dapat dilakukan jauh lebih cepat dan dalam jumlah jauh lebih besar dibandingkan merekrut responden manusia satu per satu. (Wartabanjar.com)