Wamenko Hanif Dorong ULM Jadi Kampus Percontohan Pengolahan Sampah di Kalsel
“Kalau masalah sampah, saya rasa semua universitas berangkat pada titik yang sama. Sehingga dengan leader yang cukup kuat, kemudian dibangun sistematis yang sangat mumpuni, saya yakin dan percaya insyaallah ULM dalam waktu yang tidak terlalu lama mampu membangun dirinya menjadi universitas yang berhasil kelola sampah 100 persen,” katanya.
Hanif juga menyoroti tantangan pengelolaan sampah di Kota Banjarmasin yang memiliki karakteristik wilayah sungai.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan yang lebih serius dan terintegrasi.
Ia berharap Banjarmasin dapat menjadi barometer pengelolaan sampah di Kalimantan Selatan bahkan di tingkat regional Kalimantan.
“Kalau sampah Banjarmasin bisa ditangani serius, saya harap akan menjadi contoh bagi yang lain. Kalau Banjarmasin bisa, mestinya yang lain juga bisa,” ungkapnya.
Sementara itu, Rektor ULM, Ahmad Alim Bachri menyambut baik kehadiran Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan dalam kegiatan tersebut.
ULM berkomitmen menindaklanjuti dorongan tersebut dengan membentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) peduli sampah.
UKM tersebut nantinya diharapkan menjadi wadah bagi mahasiswa untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah sekaligus menjadi duta ULM yang berkolaborasi dengan pemerintah daerah di Kalimantan Selatan.
“Insyaallah dalam waktu dekat kita akan segera bentuk salah satu unit kegiatan mahasiswa peduli sampah yang diharapkan akan menjadi duta-duta atau wakil-wakil ULM untuk bekerja sama dengan pemerintah daerah yang ada di Kalimantan Selatan dalam rangka penanganan sampah,” ujarnya.
Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui momentum World Cleanup Day, pemerintah dan perguruan tinggi berharap kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan sampah terus tumbuh, sehingga upaya menjaga kebersihan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi budaya yang dilakukan secara berkelanjutan. (Wartabanjar.com/MC Kalsel/*)