Namun sejak tahun 2025, hidup Shen berubah. Suaranya mulai banyak dikloning teknologi AI. 

Tiruan suaranya kemudian dipakai tanpa izin di berbagai konten, mulai dari video penjelasan film, iklan, berita olahraga, hingga teori konspirasi. 

Kepada Sixth Tone, Shen mengaku bahwa teman-temannya bahkan sering mengirimkan video yang menggunakan suara hasil kloningan AI tersebut, sambil mengucapkan selamat karena mengira dirinya mendapat banyak proyek baru.

Seiring perkembangan teknologi kloning suara berbasis AI semakin baik, sebagian klien Shen mulai beralih menggunakan suara sintetis, karena biaya produksinya yang jauh lebih murah.

Tragis. Namun, yang paling menyakitkan bagi Shen bukan semata kehilangan klien. Ia merasa pengalaman, kemampuan, dan teknik vokal yang dibangunnya selama bertahun-tahun, kini bisa dengan mudah ditiru AI dalam hitungan detik. 

"Kami dulu percaya bahwa hasil yang baik membutuhkan proses belajar dan kerja keras. Tapi sekarang semuanya bisa dicapai dalam sekejap," ujar Shen.  

Lebih dari itu, ia bahkan merasa identitas yang selama ini dibangunnya lewat suara mulai terkikis. 

Shen mengaku AI perlahan membuatnya merasa asing dengan suaranya sendiri. "Dulu, suara adalah bagian dari diri saya. Tapi sekarang, rasanya suara itu bukan lagi milik saya sepenuhnya," kata Shen. 

Meski perasaan itu terus menghantuinya, Shen tidak ingin tinggal diam. Bersama istrinya, Wei Yiyuan mulai mengumpulkan bukti penggunaan suaranya tanpa izin. 

Mereka mendokumentasikan video, mengambil tangkapan layar, melaporkan akun ke platform, hingga menyiapkan gugatan hukum. 

Perjuangannya tidak mudah. Jumlah video yang menggunakan suara Shen dan dibuat dari kloning AI sudah telanjur masif, sementara pembuat model AI maupun penyebarnya sulit dilacak. 

Hingga kini, Shen dan para voice over actors yang menjadi korban, disebut masih belum memiliki cara yang efektif dan mudah diakses, untuk mencegah rekaman mereka diambil, dipelajari, lalu digunakan untuk mengkloning suara mereka. (Wartabanjar.com)