Tak Ada Awan Berpotensi Hujan Hingga Akhir Agustus, Modifikasi Cuaca di Kalteng Disetop
WARTABANJAR.COM, PALANGKA RAYA – Kendati kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah semakin menjadi, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah (Kalteng) teryata disetop sejak 4 Agustus 2026.
Tidak ada awan berpotensi hujan di langit Kalteng yang bisa ditabuhi garam hingga berubah menjadi hujan.
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisikan (BMKG), hal tersebut bahkan bisa terjadi sampai akhir Agustus.
Oleh karena itu, menurut Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran (BPB-PK) Kalteng Ahmad Toyib, OMC dihentikan sementara.
Dua pesawat Cessna yang bertugas menabur garam tidak lagi mengangkasa sejak 4 Agustus lalu.
Padahal Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BPBD) telah menambah pesawat OMC di Kalteng dari satu menjadi dua.
Oleh karena tidak terpakai, satu pesawat dikembalikan.
Sementara pesawat yang ada dimanfaatkan untuk patroli karhutla.
Selain terkendala tidak adanya awan berpotensi hujan, OMC hanya memiliki peluang 30 persen sehingga tidak bisa terlalu diharapkan untuk memadamkan karhutla.
Berdasarkan data BPB-PK Kalteng, sepanjang 2026 hingga 8 Agustus, terdeteksi 7.069 hotspot dan 1.066 karhutla.
Luas lahan terbakar berdasarkan laporan kabupaten/kota dan Pusdalops PB Kalteng tercatat mencapai 2.169,90 hektare.
Sementara berdasarkan citra satelit serta verifikasi lapangan dan pemadaman Manggala Agni, luas area terbakar tercatat 3.069,52 hektare.
BMKG memang telah mengingatkan masyarakat dan pemerintah daerah bahwa puncak kemarau diprediksi hingga akhir Agustus.
Peringatan ini diperbaharui pada 8 Agustus lalu, dengan tambahan sebanyak 369 Zona Musim atau sekitar 48,84 persen wilayah Indonesia diprediksi memasuki puncak kemarau pada bulan ini.
Kalteng termasuk wilayah yang perlu mewaspadai periode tersebut.
BMKG juga mengaitkan perkembangan musim kemarau 2026 dengan penguatan fenomena El Niño. (wartabanjar.com/tamam)