Sistem kandang close house yang sepenuhnya bergantung pada pasokan listrik membuat suhu di dalam kandang terus meningkat hingga ribuan ayam mati sebelum sempat dipanen.

Akibat kejadian itu, kerugian diperkirakan mencapai sekitar Rp250 juta.

Kerugian tersebut tidak hanya berasal dari hilangnya ribuan ayam siap panen, tetapi juga biaya pembersihan kandang, penguburan bangkai, serta perbaikan generator yang rusak.

Marlin mengatakan, pihak pemilik kandang masih membahas kemungkinan mengajukan tuntutan atau permohonan ganti rugi kepada PT PLN atas kerugian yang dialami.

Sementara itu, penjaga kandang lainnya, Idi, berharap pemadaman listrik berkepanjangan tidak kembali terjadi karena usaha peternakan modern sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil.

“Kami berharap listrik bisa lebih stabil. Peternakan seperti ini sangat bergantung pada blower. Kalau listrik padam terlalu lama, risikonya seperti yang kami alami sekarang,” katanya.

Menanggapi kejadian tersebut, PT PLN (Persero) menyatakan telah memonitor kasus tersebut dan akan bertemu langsung dengan pemilik usaha.

PLN juga menegaskan bahwa mekanisme pemberian kompensasi akan mengacu pada ketentuan dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 27 Tahun 2017 sebagaimana telah diubah terakhir melalui Permen ESDM Nomor 2 Tahun 2025, sehingga setiap kasus harus melalui proses kajian sebelum ditentukan tindak lanjutnya.(wartabanjar.com/Adew)

Editor Restu