Kisah di Balik Murid SD Temukan Celah Keamanan NASA, Belajar Otodidak Lewat Youtube dan AI
Menurutnya, bug yang ditemukan Ibrahim merupakan jenis broken link hijacking, yakni kerentanan yang muncul ketika sebuah situs masih mengarah ke layanan atau domain yang sudah tidak lagi digunakan sehingga berpotensi diambil alih pihak lain.
Jika dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber, celah seperti ini dapat digunakan untuk menyisipkan konten berbahaya atau melakukan serangan terhadap pengguna.
"Kemarin bisa dapat sertifikat NASA itu karena nyari kerentanan di web NASA. Menemukan broken link hijacking. Terus dilaporkan lewat VDP. Lapornya sebenarnya sudah hampir dua bulan, tapi baru dibalas tanggal 9 Juli, dapat sertifikat itu," ujar Aminuddin.
Apa Itu Vulnerability Disclosure Policy?
Vulnerability Disclosure Policy (VDP) merupakan program yang disediakan banyak organisasi besar, termasuk NASA, untuk menerima laporan dari peneliti keamanan yang menemukan kerentanan pada sistem mereka.
Melalui mekanisme ini, para peneliti diminta melaporkan temuannya secara bertanggung jawab tanpa mengeksploitasi celah tersebut.
Jika laporan dinilai valid, organisasi akan memperbaiki sistem dan biasanya memberikan apresiasi berupa sertifikat, ucapan terima kasih, hingga pencantuman nama pelapor pada daftar Hall of Fame.
Berbeda dengan program bug bounty, VDP umumnya tidak memberikan hadiah uang.
Bagi Aminuddin, penghargaan dari NASA hanyalah langkah awal bagi putranya.
Ia berharap pencapaian tersebut menjadi penyemangat agar Ibrahim terus mengembangkan kemampuan di bidang keamanan siber hingga suatu saat mampu mengikuti program bug bounty yang memberikan imbalan finansial kepada para peneliti keamanan.
"Harapannya bisa tambah semangat habis dapat itu. Mungkin ke depannya bisa dapat bug bounty, biar bisa tambah semangat lagi. Karena kalau memang ingin jadi cybersecurity profesional, berarti sudah mengarah ke pekerjaan," ujarnya.
Ia juga berharap kisah anaknya menjadi inspirasi bagi anak-anak Indonesia lainnya.
"Semua sekarang lebih mudah. Ada internet, ada AI, ada YouTube. Tinggal niat belajarnya saja. Semoga ini bisa memotivasi anak-anak lain yang suka dunia IT," katanya. (wartabanjar.com/sud/berbagai sumber)