Namun, sebagai generasi muda mereka memiliki kewajiban moral agar aksi kekerasan sebagaimana yang terjadi di Tragedi Jumat Kelabu tidak terulang.
“Mengingat Tragedi Jumat Kelabu merupakan cara kita bilang jangan sampai kekerasan menjadi hal biasa,” katanya.
Selain itu, kata Arifin, Bagi Arifin, pelajaran terbesar dari Tragedi Jumat Kelabu adalah pentingnya menjaga demokrasi dan mengontrol kekuasaan.
Beberapa Waktu lalu, sejarawan UIN Antasari, Mursalin juga menegaskan Tragedi Jumat Kelabu adalah sejarah kelam yang seharusnya masuk di buku sejarah nasional.
Ia mengatakan kunci agar tragedi di era Orde Baru itu tidak terulang adalah penguatan toleransi, keterbukaan terhadap perbedaan, serta perlunya empati publik.
Tidak kalah penting adalah penguatan literasi bagi generasi muda sekarang.
“Dengan adanya literasi, masyarakat terutama generasi muda selain bisa belajar dari tragedi itu, juga tidak akan mudah dibutakan oleh isu-isu yang menggiring opini publik guna epentingan pribadi dan kelompok tertentu,” ucapnya.
Diungkapkan Mursalin, salah satu literasi yang mengangkat Tragedi Jumat Kelabu adalah buku “Amuk Banjarmasin” yang disusun tim YLBHI. (Wartabanjar.com)







