Kejadian ini diduga mengakibatkan gangguan sistem sehingga terjadi insiden lain yang lebih fatal antara KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Commuter Line lainnya yang kebetulan berada pada lintasan tersebut.
PUKIS menilai, dua insiden berbeda pada lintasan yang sama dalam sekuens waktu yang berturut-turut menunjukkan kemungkinan adanya korelasi antara dua kejadian tersebut.
Terjadi efek domino akibat sistem gagal melakukan pemutusan/pengendalian dampak (containment) sehingga satu kejadian awal lantas berujung pada kejadian lanjutan dengan dampak yang lebih luas.
Hal ini dapat disebabkan oleh faktor teknis (seperti masalah persinyalan), faktor non-teknis (misalnya kemungkinan human error), maupun kombinasi keduanya, yang kepastiannya menunggu kesimpulan resmi dari KNKT.
Pada menit-menit awal yang sangat krusial untuk penyelamatan, lokasi kejadian tidak langsung disterilkan oleh petugas, terlihat dari adanya kerumunan besar pada saat awal penanganan.
Bahkan sejumlah akun media sosial milik individual terpantau melakukan siaran langsung (live streaming) di tempat kejadian.
Hal ini tentu membahayakan dan justru dapat menghambat upaya pertolongan dan penyelamatan korban.
PUKIS mendorong perbaikan dan peningkatan infrastruktur perkeretaapian di seluruh Indonesia.
Khusus infrastruktur perkeretaapian di Jabodetabek, hal penting dan mendesak guna mencegah terulangnya kejadian serupa adalah pembangunan jalur kereta api dwiganda (double-double track) untuk memisahkan jalur KRL Commuter Line dengan Kereta Api Jarak Jauh (KAJJ), modernisasi sistem persinyalan kereta api, dan penanganan perlintasan sebidang.
Terakhir, PUKIS mengkritik adanya pejabat yang tidak berkapasitas, tidak berwenang, dan tidak berkepentingan seperti Raffi Ahmad (Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni) yang turut hadir memenuhi lokasi kejadian.
Hal ini menunjukkan kekacauan organisasi pemerintahan serta ketidakpahaman akan tugas dan fungsi yang berpotensi mengganggu jalannya proses evakuasi di lapangan. (wartabanjar.com/*)
Editor: Yayu






