WARTABANJAR.COM, BARABAI– Sosok Raden Ajeng Kartini selalu identik dengan perjuangan perempuan dalam meraih kesempatan dan pendidikan.
Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), semangat itu tercermin dalam perjalanan hidup Maserah (55), seorang petugas kebersihan yang tak menyerah pada keadaan.
Perempuan yang akrab disapa Umma ini memulai perjalanan hidupnya sebagai bagian dari “pasukan kuning” pada 2013.
Keputusan itu bukan tanpa alasan.
Ia harus bangkit setelah sang suami meninggal dunia, sementara kebutuhan keluarga terus berjalan, termasuk biaya pendidikan anaknya.
“Waktu itu anak masih sekolah dan kebutuhan keluarga cukup banyak. Jadi mau tidak mau saya harus bekerja. Alhamdulillah waktu itu diterima sebagai pasukan kuning,” ujarnya mengenang, Selasa (21/4).
Sejak saat itu, hari-harinya dimulai ketika sebagian besar orang masih terlelap.
Ia sudah menyapu jalanan Kota Barabai sejak pukul 02.00 WITA, memastikan kota bersih saat aktivitas warga dimulai pagi hari.
Bekerja di waktu dini hari bukan tanpa risiko.
Ia mengaku kerap menghadapi berbagai situasi yang tidak terduga di lapangan.
“Kalau subuh itu macam-macam yang ditemui, kadang orang mabuk, orang dengan gangguan jiwa. Tapi tetap dijalani saja, karena ini untuk keluarga,” tuturnya.
Perlahan, kerja kerasnya membuahkan hasil.
Anak yang dulu menjadi alasan utama ia bertahan, akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan dan bekerja.
Pada 2022, kebijakan baru membuat petugas perempuan dipindahkan ke tempat pengolahan sampah.







