Ia kemudian bertugas di TPS 3R Benawa Tengah.
Lingkungan kerja berubah, namun baginya justru memberi rasa aman.
“Alhamdulillah dengan kebijakan itu kami bisa bekerja lebih aman dan tidak terlalu khawatir lagi saat bertugas,” ungkapnya.
Tak berhenti di situ, ia juga mengambil keputusan besar dengan kembali bersekolah di usia yang tidak lagi muda.
Ia mengikuti Paket C demi memenuhi syarat pendidikan setara SMA.
“Walaupun sudah tua, saya tetap sekolah lagi. Soalnya syarat ikut seleksi harus lulus SMA, jadi saya kejar Paket C supaya bisa ikut,” katanya dengan senyum.
Usahanya tidak sia-sia.
Pada 2025, ia berhasil lulus dan diterima sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
Bagi Maserah, pencapaian ini bukan akhir, melainkan langkah awal menuju harapan yang lebih besar.
“Alhamdulillah sudah bisa di tahap ini. Mudah-mudahan ke depan bisa jadi PPPK penuh waktu,” harapnya.
Di balik seragam sederhana dan pekerjaan yang sering dipandang sebelah mata, tersimpan cerita keteguhan seorang perempuan yang tidak menyerah pada keadaan.
Di Hari Kartini, kisah Maserah menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan tidak selalu hadir dalam ruang besar, tetapi juga di jalanan kota, di antara sapu dan tumpukan sampah, serta di ruang kelas yang kembali ia datangi demi masa depan yang lebih baik. (wartabanjar.com/Adew)
Editor: Yayu







