WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Jauh sebelum dikenal sebagai tempat berkumpul anak muda, kawasan Minggu Raya di Banjarbaru hanyalah titik singgah sederhana bagi warga yang hendak menuju Hulu Sungai.
Dari ingatan Rico Hasyim, kawasan itu dulu tidak lebih dari tempat menunggu kendaraan, tanpa bangunan, tanpa atap, hanya tanah terbuka yang ramai oleh orang datang dan pergi.
“Dulu orang nunggu bis atau taksi di situ. Kayak halte, tapi tidak ada atapnya,” kenang Om Rico, sapaan akrabnya, Minggu (19/4/2026).
Ia menyebut, kawasan yang saat itu dikenal sebagai Munggu Raya mulai ramai sekitar tahun 1974–1975 karena letaknya yang strategis.
Orang-orang dari dan menuju wilayah Hulu Sungai kerap singgah di sana, menjadikannya titik transit penting di Banjarbaru.
Di seberangnya, berdiri rumah Van der Pijl, sosok perancang kota Banjarbaru, yang ikut memberi warna perkembangan kawasan tersebut.
Seiring waktu, Om Rico menceritakan di kawasan sekitar air mancur depan Minggu Raya sekarang, dahulunya adalah sebuah kebun binatang kecil.
“Ada burung, monyet, sampai buaya. Walaupun tidak besar, tapi cukup jadi hiburan waktu itu,” ujarnya.
Namun perubahan besar terjadi ketika aktivitas kuliner mulai muncul.
Salah satu pelopornya adalah Om Didik Suwardi, anggota Brimob yang juga seorang seniman.







