Sejarah MGR Banjarbaru: Dari Halte Sederhana Jadi Ikon Nongkrong Anak Muda

“Sidin itu orang seni. Bahkan pernah ikut membangun Tugu Selamat Datang di bundaran HI Jakarta,” ungkap Om Rico sambil memperagakan denga tangan.

Warung roti bakar milik Om Didik menjadi titik awal tumbuhnya budaya nongkrong di Banjarbaru.

”Dari situ, anak-anak muda mulai berkumpul bermain gitar, bernyanyi, hingga larut malam dalam suasana sederhana dengan lampu petromaks,” jelasnya dengan semangat.

Namun, momen penting terjadi sekitar tahun 1978, ketika gagasan membentuk komunitas mulai muncul.

Di teras rumah Bang Dewa, sejumlah pemuda berkumpul, di antaranya Om Abul, Om Abir, Om Iras, dan lainnya.

“Waktu itu Om Abul yang paling jago gambar, jadi disuruh bikin lambang MGR,” ujar Om Rico.

Ia menyebut, logo awal MGR berbentuk segitiga, mencerminkan kegemaran anggota terhadap kegiatan alam dan pendakian.

”Dari pertemuan sederhana itu, lahirlah komunitas Minggu Raya (MGR), yang kemudian berkembang menjadi bagian penting dari sejarah Banjarbaru,” kisahnya. (wartabanjar.com/IKhsan)

Editor: Andi Akbar