Selain itu, lanjut Mbah Agus, untuk masakan Lotek disajikan juga memiliki ciri khas tersendiri, sayuran seperti kangkung, tauge, kacang panjang, dan kol direbus hingga matang, kemudian disiram dengan bumbu kacang yang diulek langsung, dicampur gula merah, bawang putih, cabai, dan kencur sehingga menghasilkan aroma yang lebih kuat dibandingkan gado-gado.
Tersedia pula urap yang terdiri dari aneka sayuran rebus yang dicampur kelapa parut berbumbu. Kelapa tersebut diolah dengan campuran bawang, cabai, dan daun jeruk sehingga menghasilkan rasa gurih segar yang khas.
Yang tak kalah menarik adalah krecek, olahan kulit sapi yang dimasak dengan cabai dan santan. Menu ini bisa disajikan dalam bentuk oseng dengan rasa pedas manis maupun dalam kuah lodeh santan kental yang kaya rempah, berpadu dengan tempe dan tahu.
“Semua kami masak dengan bumbu segar dan cara tradisional agar rasanya tetap sama seperti di Jogja,” ujar Mbah Agus.
Tak hanya warga asal Jogja yang bermukim di Tabalong, warung ini juga digemari masyarakat lokal. Cita rasa yang khas dan suasana yang nyaman membuat Warung Mbah Agus hampir tak pernah sepi pengunjung.
Bahkan, warung ini kerap dimanfaatkan oleh instansi pemerintahan maupun komunitas untuk kegiatan makan bersama hingga perayaan ulang tahun.
Kehadiran Warung Mbah Agus menjadi bukti bahwa kekayaan kuliner Nusantara dapat dinikmati lintas daerah, sekaligus menjadi pengobat rindu bagi para perantau yang merindukan masakan kampung halaman.(wartabanjar.com/Suhardi).
Editor Restu







