Penjelasan yang serupa juga disampaikan oleh Syekh Ibn Hajar al-Asqalani (wafat 852 H). Menurut beliau, hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadar adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam mencarinya.
Jika malam tersebut diketahui secara pasti, maka kemungkinan besar orang-orang hanya akan beribadah pada malam itu saja.
قَالَ الْعُلَمَاءُ: الْحِكْمَةُ فِي إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِيَحْصُلَ الِاجْتِهَادُ فِي الْتِمَاسِهَا، بِخِلَافِ مَا لَوْ عُيِّنَتْ لَهَا لَيْلَةٌ لَاقْتُصِرَ عَلَيْهَا كَمَا تَقَدَّمَ نَحْوُهُ فِي سَاعَةِ الْجُمُعَةِ
“Para ulama berkata: hikmah disembunyikannya malam Lailatul Qadar adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Berbeda halnya jika malam tersebut ditentukan secara pasti, maka orang-orang akan mencukupkan diri hanya pada malam itu saja, sebagaimana telah disebutkan hal yang serupa mengenai waktu mustajab pada hari Jumat.” (Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari [Mesir: al-Maktabah as-Salafiyah], vol. 4, h. 266)
Selain itu, Syekh Dr Wahbah az-Zuhaili (wafat 1436 H) mengungkapkan dalam tafsirnya bahwa kerahasiaan Lailatul Qadar memiliki hikmah yang mirip dengan disembunyikannya waktu kematian dan Hari Kiamat.
Tujuannya agar manusia selalu terdorong untuk meningkatkan ketaatan, tidak lalai dalam beribadah, serta tidak merasa cukup hanya dengan sedikit amal.
Bahkan, menurut az-Zuhaili kerahasiaan ini juga merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, agar manusia tidak dengan sengaja melakukan maksiat pada malam itu.
الْحِكْمَةُ فِي إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ كَالْحِكْمَةِ فِي إِخْفَاءِ وَقْتِ الْوَفَاةِ وَيَوْمِ الْقِيَامَةِ، حَتَّى يَرْغَبَ الْمُكَلَّفُ فِي الطَّاعَاتِ، وَيَزِيدَ فِي الِاجْتِهَادِ، وَلَا يَتَغَافَلَ، وَلَا يَتَكَاسَلَ، وَلَا يَتَّكِلَ. وَمِنَ الْإِشْفَاقِ أَيْضًا أَلَّا تُعْرَفَ لِلْمُكَلَّفِ بِعَيْنِهَا لِئَلَّا يَكُونَ بِالْمَعْصِيَةِ فِيهَا خَاطِئًا مُتَعَمِّدًا
“Hikmah disembunyikannya malam Lailatul Qadar sama seperti hikmah disembunyikannya waktu kematian dan hari kiamat, yakni agar seorang mukallaf terdorong untuk memperbanyak ketaatan, meningkatkan kesungguhan dalam beribadah, tidak lalai, tidak malas, dan tidak bersandar (berpuas diri). Di antara bentuk kasih sayang Allah juga adalah bahwa malam itu tidak diketahui secara pasti oleh manusia, agar seseorang tidak dengan sengaja melakukan maksiat pada malam tersebut.” (At-Tafsir al-Munir [Damaskus: Dar al-Fikr al-Mu’ashir], vol. 30, h. 338)
Dari berbagai penjelasan para ulama di atas, dapat dipahami bahwa dirahasiakannya waktu pasti Lailatul Qadar bukanlah tanpa tujuan.
Di balik kerahasiaan tersebut terdapat hikmah yang sangat dalam. Allah SWT menghendaki agar umat Islam tidak hanya beribadah pada satu malam tertentu, tetapi bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh malam di sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan berbagai bentuk ketaatan.
Kerahasiaan ini juga menjadi bentuk pendidikan spiritual bagi seorang mukmin agar selalu menjaga kesungguhan dalam beribadah, tidak merasa cukup dengan amal yang sedikit, serta terus berharap akan rahmat dan ampunan Allah. (Wartabanjar.com/MUI)
Editor Restu







