Lalu pertanyaan yang kerap muncul adalah mengapa Allah merahasiakan waktu pasti Lailatul Qadar, padahal malam tersebut memiliki keutamaan yang begitu besar?
Para ulama menjelaskan bahwa di balik kerahasiaan ini terdapat sejumlah hikmah yang mendalam.
Imam Ibn Qudamah al-Maqdisi (wafat 620 H) menuturkan bahwa Allah menyembunyikan waktu Lailatul Qadar agar para hamba-Nya bersungguh-sungguh dalam beribadah dan berdoa untuk mencarinya. Hal ini serupa dengan disembunyikannya waktu mustajab pada hari Jumat.
وَقِيلَ: أَخْفَى اللَّهُ تَعَالَى هَذِهِ السَّاعَةَ لِيَجْتَهِدَ عِبَادُهُ فِي دُعَائِهِ فِي جَمِيعِ الْيَوْمِ طَلَبًا لَهَا، كَمَا أَخْفَى لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي لَيَالِي رَمَضَانَ
“Ada pula pendapat yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala menyembunyikan (waktu mustajab di hari Jumat) agar para hamba-Nya bersungguh-sungguh berdoa sepanjang hari untuk mencarinya, sebagaimana Allah menyembunyikan malam Lailatul Qadar di antara malam-malam bulan Ramadhan.” (Al-Mughni [Kairo: Maktabah al-Qahirah], vol. 2, h. 263)
Penjelasan yang serupa juga disampaikan oleh Syekh Ibn Hajar al-Asqalani (wafat 852 H). Menurut beliau, hikmah dirahasiakannya Lailatul Qadar adalah agar manusia bersungguh-sungguh dalam mencarinya.
Jika malam tersebut diketahui secara pasti, maka kemungkinan besar orang-orang hanya akan beribadah pada malam itu saja.
قَالَ الْعُلَمَاءُ: الْحِكْمَةُ فِي إِخْفَاءِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِيَحْصُلَ الِاجْتِهَادُ فِي الْتِمَاسِهَا، بِخِلَافِ مَا لَوْ عُيِّنَتْ لَهَا لَيْلَةٌ لَاقْتُصِرَ عَلَيْهَا كَمَا تَقَدَّمَ نَحْوُهُ فِي سَاعَةِ الْجُمُعَةِ







