Namun ia menambahkan, jika suatu saat terbentuk pemerintahan demokratis yang dipilih seluruh penduduk wilayah tersebut Muslim, Yahudi, maupun Kristen maka Iran akan menghormati hasil tersebut.

Tanggapi Tawaran Mediasi Indonesia

Terkait pernyataan Presiden Indonesia yang membuka peluang mediasi, Boroujerdi menyampaikan apresiasi atas niat baik pemerintah Indonesia.

Namun ia menegaskan hingga saat ini belum ada langkah konkret atau komunikasi resmi terkait proses mediasi.

“Kami menghargai niat baik Indonesia. Tetapi sampai sekarang belum ada langkah praktis,” katanya.

Ia menambahkan, komunikasi antarpejabat kedua negara tetap terbuka, namun keberhasilan mediasi bergantung pada banyak faktor.

Soal Kepemimpinan Tertinggi Iran

Menjawab pertanyaan media terkait mekanisme suksesi jika terjadi kekosongan jabatan Pemimpin Tertinggi Iran, Boroujerdi menjelaskan bahwa konstitusi Iran telah mengatur proses tersebut.

Jika pemimpin tidak dapat menjalankan tugas karena wafat, sakit, atau sebab lain, maka kepemimpinan sementara dijalankan oleh dewan yang terdiri dari Presiden Iran, Ketua Mahkamah Agung, dan satu anggota Dewan Garda Konstitusi.

Dewan tersebut bertugas hingga Majelis Ahli memilih pemimpin baru.

“Iran adalah negara yang terorganisir dan kuat. Sistem kami tidak bergantung pada satu orang,” tegasnya.

Persiapan Menghadapi Ancaman dan Evakuasi WNA

Boroujerdi juga menyatakan Iran telah belajar dari konflik sebelumnya dan memperkuat infrastruktur pertahanan serta perlindungan warga sipil.

Ia mengungkapkan sejumlah kedutaan asing berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri Iran untuk mengevakuasi warganya.

“Setiap hari ada komunikasi dengan kedutaan-kedutaan. Kami membantu proses evakuasi,” ujarnya.

Harapan kepada D-8

Terkait posisi Indonesia sebagai Ketua D-8 periode 2024–2027, Boroujerdi berharap organisasi tersebut mengambil sikap tegas.

“Kami berharap D-8, termasuk Indonesia, secara jelas dan keras mengutuk serangan terhadap negara kami. Kutukan adalah langkah pertama,” katanya.

Menurutnya, kecaman internasional menjadi dasar untuk langkah diplomatik berikutnya guna mencegah eskalasi konflik lebih luas.

Dalam forum yang berlangsung dinamis tersebut, Boroujerdi berulang kali menekankan bahwa musuh utama Iran adalah Amerika Serikat dan Israel, bukan negara-negara tetangganya.