WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Rencana perdamaian Gaza yang digagas Board of Peace menempatkan Indonesia sebagai salah satu aktor utama dalam upaya stabilisasi keamanan dan rekonstruksi wilayah pascaperang. Langkah ini menegaskan peran RI bukan sekadar seruan diplomasi, melainkan aksi nyata di garis depan perdamaian.
Indonesia di Garis Depan Perdamaian
Dalam rencana kerja yang dipaparkan, dibentuk International Stabilization Force (ISF) untuk menjaga gencatan senjata dan menciptakan stabilitas jangka panjang. Indonesia ditunjuk sebagai Deputy Commander ISF, posisi strategis yang menempatkan pasukan RI memimpin sektor prioritas, termasuk Rafah.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen Indonesia untuk mengirimkan hingga 8.000 personel jika diperlukan. Pasukan ini akan bertugas dalam:
• Stabilisasi keamanan di wilayah Gaza.
• Pelatihan kepolisian sipil profesional.
• Koordinasi keamanan bersama mitra internasional.
Donald Trump, dalam pertemuan Board of Peace, secara khusus mengapresiasi kontribusi Indonesia:
“Secara khusus, Indonesia, terima kasih banyak, Indonesia,” ujarnya.
Rekonstruksi Ambisius Gaza
Selain aspek keamanan, rencana perdamaian ini juga menargetkan rekonstruksi besar-besaran:
• Fase awal: pembangunan kembali 100.000 rumah, pemulihan layanan dasar, serta pembersihan 70 juta ton puing dan 350 km terowongan bawah tanah.
• Jangka panjang: pembangunan lebih dari 400.000 rumah, infrastruktur energi, air, sanitasi, jalan, pelabuhan, hingga bandara. Kawasan pesisir akan dikembangkan untuk mendukung aktivitas ekonomi.







