Tradisi Megengan, Cara Warga Masingai II Sambut Ramadhan Sejak 1979

“Sudah puluhan tahun kami laksanakan. Sejak 1979 sampai sekarang tradisi ini tidak pernah terputus,”ujar Tugiran pada wartabanjar.com, Selasa (17/2/2026).

Menurut dia, kata Megengan berasal dari bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan. Makna tersebut merujuk pada dimulainya kewajiban umat Islam untuk menahan hawa nafsu, termasuk makan dan minum, selama bulan Ramadhan.

Ia menjelaskan, di berbagai daerah di Jawa, Megengan biasanya juga diisi dengan doa bersama, tahlilan, ziarah kubur, hingga sedekah makanan, terutama kue apem yang menjadi simbol permohonan ampun.

“Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa menyambut bulan suci Ramadhan yang sarat makna kebersamaan, rasa syukur, dan persiapan spiritual,”ucap Tugiran.

Bagi warga Masingai II, tradisi ini bukan sekadar seremoni tahunan. Lebih dari itu, Megengan menjadi ruang mempererat silaturahmi antarwarga sekaligus memperkuat nilai gotong royong di tengah kehidupan masyarakat.

Dengan tetap dilaksanakannya Megengan dari generasi ke generasi, warga berharap ibadah puasa dan shalat tarawih dapat dijalankan dengan lancar, khusyuk, dan penuh keberkahan.(wartabanjar.com/Suhardi).

Editor Restu