Tradisi Megengan, Cara Warga Masingai II Sambut Ramadhan Sejak 1979

WARTABANJAR COM,TANJUNG – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, warga Desa Masingai II Kecamatan Upau Kabupaten Tabalong, Provinsi Kalimantan Selatan kembali menggelar tradisi unik “Megengan”.

Sebuah ritual doa bersama yang telah dilestarikan turun-temurun sejak puluhan tahun silam.

Warga Masingai II yang mayoritas merupakan transmigran asal Pulau Jawa masih mempertahankan tradisi leluhur tersebut sebagai bentuk rasa syukur sekaligus persiapan spiritual memasuki bulan puasa.

Baca Juga Live Streaming Sidang Isbat Penentuan 1 Ramadhan 1447 H

Megengan digelar dengan cara sederhana namun sarat makna. Setiap warga membawa nasi minimal dua bungkus untuk kemudian dikumpulkan di mushalla, Mesjid atau di Balai Desa.

Setelah seluruh warga berkumpul, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa bersama. Usai berdoa, seluruh makanan yang dibawa disantap bersama dalam suasana kebersamaan.

Salah seorang warga, Tugiran, mengatakan tradisi Megengan di Masingai II telah dilaksanakan sejak tahun 1979.

“Sudah puluhan tahun kami laksanakan. Sejak 1979 sampai sekarang tradisi ini tidak pernah terputus,”ujar Tugiran pada wartabanjar.com, Selasa (17/2/2026).

Menurut dia, kata Megengan berasal dari bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan. Makna tersebut merujuk pada dimulainya kewajiban umat Islam untuk menahan hawa nafsu, termasuk makan dan minum, selama bulan Ramadhan.

Ia menjelaskan, di berbagai daerah di Jawa, Megengan biasanya juga diisi dengan doa bersama, tahlilan, ziarah kubur, hingga sedekah makanan, terutama kue apem yang menjadi simbol permohonan ampun.