Pengurus Kelenteng Po An Kiong, Chitra Suryapandi menjelaskan, bahwa berdasarkan penanggalan Tionghoa, 2026 merupakan Tahun Kuda Api.
Ia mengajak seluruh masyarakat untuk saling menjaga, mengingat karakter tahun tersebut kerap dimaknai penuh tantangan.
“Mudah-mudahan tahun Kuda Api ini membawa kebaikan. Kita semua, tanpa melihat suku maupun agama, harus saling menjaga dan menghormati,” ujar pria yang akrab disapa Koh Aci itu.
Seiring rangkaian Imlek hingga Cap Go Meh yang berdekatan dengan datangnya bulan suci Ramadan, pihak kelenteng turut menyiapkan langkah penyesuaian. Salah satunya dengan mengatur jadwal atraksi budaya seperti Barongsai agar tidak mengganggu umat Muslim yang menjalankan ibadah puasa.
“Kami imbau Barongsai digelar malam hari, setelah waktu berbuka. Supaya semua bisa beribadah dengan nyaman,” katanya.
Rangkaian sembahyang Imlek akan berlangsung hingga hari ketiga, yang dipercaya sebagai waktu turunnya para dewa, dan berpuncak pada malam kesembilan dengan ritual syukur kepada Tuhan.
Melalui semangat saling menghormati ini, perayaan Imlek di Banjarmasin kembali menegaskan kuatnya nilai toleransi dan harmoni antarumat beragama di Kalimantan Selatan. (Wartabanjar.com/iqnatius)
Editor Restu







