“Edukasi ini adalah investasi keselamatan; kita ingin anak-anak memiliki kewaspadaan yang tinggi namun tetap tenang, sehingga mereka tahu persis langkah darurat apa yang harus diambil saat melihat potensi bahaya api,” ujar Supriyanto.
Dalam sesi tersebut, para siswa diajak untuk berani berinteraksi dengan petugas dan memahami prosedur penyelamatan diri.
Diharapkan melalui simulasi dan penjelasan langsung ini, para siswa tidak lagi hanya menjadi penonton, melainkan memiliki kesadaran untuk meminimalisir risiko kebakaran di lingkungan mereka.
Apresiasi tinggi datang dari para tenaga pendidik. Pembelajaran kontekstual seperti ini dinilai jauh lebih efektif dan membekas bagi siswa dibandingkan hanya membaca teks di buku, karena menghadirkan pengalaman nyata langsung dari ahlinya.(Wartabanjar.com/Gazali)
Editor Restu







