WARTABANJAR.COM – Pemerintah China resmi meluncurkan proyek ambisius dengan mentransformasi Pulau Hainan menjadi kawasan pabean khusus bernilai US$ 113 miliar atau setara Rp 1.908,23 triliun. Kawasan ini diproyeksikan menjadi pusat perdagangan bebas terbesar China sekaligus “Hong Kong versi baru” yang lokasinya berdekatan dengan kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Transformasi tersebut diwujudkan melalui pengembangan Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan (Hainan Free Trade Port/FTP) yang secara resmi mulai beroperasi penuh sejak 18 Desember 2025, ditandai dengan pemisahan sistem bea cukai Hainan dari daratan utama China.

Melansir Reuters, Sabtu (17/1/2026), proyek ini menjadi bagian dari strategi besar Beijing untuk memperluas keterbukaan ekonomi, sekaligus memperkuat posisi China dalam upaya bergabung dengan Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP).

Target Jadi Pusat Perdagangan Bebas Baru Asia

Pemerintah China berharap kebijakan zona bebas bea di Hainan mampu menarik arus investasi asing besar-besaran. Melalui skema ini, setidaknya 30% barang bernilai tambah tinggi ditargetkan dapat masuk ke China tanpa tarif impor.

Tak hanya itu, perusahaan asing juga diberi kelonggaran untuk beroperasi di berbagai sektor jasa yang selama ini dibatasi ketat di daratan China, mulai dari keuangan, logistik, hingga layanan profesional.

“China bertujuan menjadikan Pelabuhan Perdagangan Bebas Hainan sebagai gerbang utama yang memimpin keterbukaan negara ini menuju era baru,” tulis kantor berita pemerintah Xinhua, dikutip Reuters.

Langkah tersebut dinilai krusial di tengah meningkatnya proteksionisme global yang menekan arus perdagangan internasional dalam beberapa tahun terakhir.

Gerbang China ke Asia Tenggara

Para ekonom menilai keberhasilan sistem bea cukai terpisah di Hainan bisa menjadi model baru bagi keterbukaan ekonomi China. Jika sukses, Beijing berpeluang memperluas liberalisasi ke lebih banyak sektor ekonomi domestik.

“Tolok ukurnya mirip dengan Hong Kong. Selain mendorong sektor pariwisata, proyek ini harus mampu menarik investasi asing dan mengembangkan manufaktur bernilai tinggi,” ujar Ran Guo, Direktur Ekonomi Konsumen Dewan Bisnis China–Inggris.