Di bawah kedalaman 100 meter, lapisan tanah diinterpretasikan sebagai material vulkanik yang bersifat impermeabel. Kondisi inilah yang mempercepat dan mempertahankan aktivitas pergerakan tanah.

Tim ESDM Aceh menegaskan, zona jenuh air menjadi pemicu utama semakin aktifnya pergerakan tanah di wilayah tersebut.

“Kondisi ini menyebabkan daerah tersebut sangat berpotensi mengalami gerakan tanah secara terus-menerus,” tulis Tim ESDM Aceh dalam laporan resminya.

Rekomendasi Penanganan dari Tim ESDM Aceh

Untuk meminimalkan risiko bencana, Tim Dinas ESDM Aceh mengeluarkan sejumlah rekomendasi penting. Salah satunya adalah relokasi jalur jalan agar menjauhi lokasi longsor guna mencegah terputusnya akses dan membahayakan pengguna jalan.

Pembangunan jalan pengganti juga harus mempertimbangkan aspek geologi teknik dan hidrogeologi. Selain itu, diperlukan pemantauan rutin serta penyelidikan lanjutan terhadap aktivitas pergerakan tanah.

Pemasangan rambu peringatan rawan longsor dan garis pembatas di sekitar tebing juga menjadi langkah krusial. Edukasi kepada masyarakat terkait potensi bahaya gerakan tanah dinilai sangat penting sebagai bagian dari mitigasi bencana.

“Diperlukan kajian yang komprehensif untuk melakukan mitigasi secara struktural agar risiko dapat ditekan semaksimal mungkin,” tegas Tim ESDM Aceh.

Fenomena lubang raksasa di Aceh Tengah ini menjadi peringatan serius bahwa ancaman bencana geologi tidak bisa dianggap remeh. Tanpa penanganan tepat, pergerakan tanah berpotensi menimbulkan kerugian besar, baik bagi infrastruktur maupun keselamatan warga.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)

editor: nur_muhammad