WARTABANJAR.COM, GOWA – Di bawah terik matahari Gowa, Haji Ali (61) masih setia menjajakan es kelapa. Tangannya cekatan, senyumnya sederhana. Namun, di balik kesahajaan itu, tersimpan tekad besar: memastikan anak, ponakan, hingga cucu-cucunya kelak bisa menunaikan rukun Islam kelima.
Selasa pagi itu, suasana Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhajumrah) Gowa mendadak berbeda. Iring-iringan lima mobil dan belasan sepeda motor berhenti hampir bersamaan. Sekitar 36 orang turun, membentuk rombongan besar yang langsung menyita perhatian warga.
Di tengah rombongan itu, berdiri Haji Ali. Bukan pejabat, bukan pengusaha besar. Ia hanya penjual es kelapa. Namun hari itu, ia mendaftarkan 24 anggota keluarganya sekaligus untuk mendapatkan porsi haji.
Kepala Kantor Kemenhajumrah Gowa, H Alim Bahri (53), membenarkan peristiwa tersebut.
“Kami menerima rombongan Haji Ali yang mendaftarkan anak, ponakan, dan cucu-cucunya untuk mendapatkan porsi haji. Jumlah sebanyak ini tergolong sangat jarang,” ujarnya.
Menurut Alim Bahri, pendaftaran massal seperti ini bukan hanya mencuri perhatian petugas, tetapi juga menjadi perbincangan masyarakat yang menyaksikan langsung prosesnya.
Bagi Haji Ali, keputusan itu bukan soal pamer kemampuan. Ia hanya berpikir jauh ke depan. Masa tunggu haji yang bisa mencapai puluhan tahun membuatnya memilih bertindak sejak sekarang.
“Kami datang agar anak, ponakan, dan cucu bisa lebih cepat mendapat porsi haji. Soal berangkatnya nanti, itu urusan waktu dan rezeki,” tuturnya lirih.
